oleh

Alokasi Pupuk Subsidi di Banyuwangi Bertambah

Banyuwangi, (afederasi.com) – Petani di Kabupaten Banyuwangi mendapat angin segar, stok pupuk bersubsidi kini ditambah oleh pemerintah pusat. Namun meski di tambahnya alokasi pupuk, harga pupuk bersubsidi ternyata juga mengalami kenaikan.

Kenaikan harga pupuk itu jenis urea, SP 36 dan ZA. Meski mengalami kenaikan, hanya satu jenis pupuk yang harganya masih stabil yaitu pupuk jenis Phonska.

“Kenaikan harga pupuk ini terjadi secara nasional dan sudah menjadi keputusan pemerintah pusat,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Arif Setiawan, Rabu (13/1/2021).

Kenaikan harga itu, jelas Arif, hanya sekitar Rp400 hingga Rp450. Yang mana, harga pupuk jenis urea yang sebelumnya Rp 1.800 kini menjadi Rp2.250 per kilogram. Sedangkan pupuk SP 36 yang semula harganya Rp2.000 kini menjadi Rp2.400 per kilogram.

“Untuk pupuk jenis ZA harga awal Rp1.400 kini menjadi Rp1.700 per kilogram,” paparnya.

Arif mengatakan, kenaikan harga tersebut dikarenakan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) atas kebijakan pusat. Kenaikan ini, jelas akan berdampak kepada para petani. Namun, pihaknya tidak bisa berbuat banyak.

Baca Juga  Alokasi Pupuk 2020 Turun Hingga 50 Persen

“Karena ini sudah keputusan dari pusat, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Meski harganya mengalami kenaikan, masih kata dia, stok pupuk di Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan. Tahun 2020 Banyuwangi hanya mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi jenis urea sebanyak 38 ribu ton, karena mengalami kekurangan akhirnya Pemda mengajukan kembali, sehingga total mendapatkan jatah 49.335 ton. Dan Tahun 2021 ini alokasi ditambah menjadi 59.511 ton.

“Jadi alokasi pupuk tahun 2019 menjadi acuan kita, karena tahun 2019 itu urea kita mendapatkan 61 ribu ton. Alhamdulillah tahun ini ada peningkatan melebihi tahun 2020,” terangnya.

Arief menyebut, ada selisih penambahan 10.117 ton dari tahun 2020. Penambahan jatah alokasi pupuk bersubsidi di Banyuwangi ini disesuaikan dengan elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Meski selisih sedikit dengan jatah pupuk subsidi jenis urea di tahun 2019, namun hal ini sudah dikatakan cukup ketika dibandingkan tahun 2020. Diketahui pada tahun 2020 pupuk subsidi di Banyuwangi mengalami kelangkaan dikarenakan jatah pupuk dipangkas oleh pusat.

Baca Juga  Kartu Tani Belum Tercetak, Petani Sulit Membeli Pupuk

“Harapannya kebutuhan pupuk petani tahun ini yang sudah diajukan berdasarkan e-RDKK, semoga cukup,” ungkapnya.

Arief menambahkan, tidak hanya pupuk urea yang mendapatkan jatah tambahan. Seperti jenis pupuk subsidi SP 36 meningkat di 14.662 ton yang sebelumnya 6.041 ton. Pupuk subsidi jenis ZA juga sama mengalami penambahan 20.548 ton yang sebelumnya 14.823 ton. Sementara NPK Phonska mengalami penurunan 27.456 ton yang tahun sebelumnya mendapatkan 29.319 ton.

“Terakhir pupuk organik granul tahun 2021 juga turun, kita hanya dapat 9.563 ton, tahun 2020 mendapat 11.864 ton. Banyuwangi juga mendapatkan jatah pupuk organik cair di tahun 2021 sebanyak 18.285 ton,” jelasnya.

Saat ini pihaknya masih merencanakan pembagian jatah pupuk di masing-masing Kecamatan. Sedangkan untuk para petani yang ingin mendapatkan pupuk subsidi tersebut, prosesnya masih tetap yaitu dengan mendaftar di elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK) yang ada di kios, sedangkan yang tidak tercantum dalam e-RDKK petani tidak bisa mendapatkan pupuk bersubsidi. (ron/dn)

News Feed