oleh

Abaikan Sila Keempat Pancasila, Demontrasi Bermunculan

Blitar (afederasi.com) – Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang di motori oleh sejumlah tokoh-tokoh nasional, mengharapkan sila keempat agar tidak diabaikan. Karena dalam sila keempat tersebut banyak sekali kandungan nilai tentang kehidupan masyarakat.

Sejumlah deklarator seperti Din Syamsudin, Amin Rais bahkan turut pula dihadiri mantan Panglima Gatot Nurmatyo. KAMI berpendapat bahwa saat ini kondisi bangsa Indonesia sudah jauh dari nilai sila keempat. Karena saat ini secara nyata banyak sekali ketimpangan dalam hal sosial, politik, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Menyikapi terhadap aksi tersebut, aktivis anti korupsi Blitar, Mohamad Trijanto mengatakan bahwa aksi KAMI tersebut, adalah gerakan moral yang dilandasi dengan fakta riil tentang kondisi bangsa Indonesia saat ini. Dimana dalam sila keempat salah satunya adalah tentang nilai kerakyatan yang saat ini sudah berubah menjadi nilai kematerialan. Rakyat terus menerus “dibohongi” dengan kesejateraan melalui berbagai kebijakan dan program.

“Saya rasa gerakan yang dilakukan KAMI adalah sebuah bentuk kekecewaan terhadap pemerintah saat ini, karena kondisi bangsa yang telah kritis. Selain itu, adanya pemimpin yang tidak mencerminkan keinginan rakyat dalam hal ekonomi, sosial dan politik,” ujar Trijanto.

Baca Juga  Ancam Aksi Lebih Besar, Deadline Polres 5 Hari Tangkap Pelaku

Bertumbuh kembangnya gerakan ini, bisa menjadi stimulan untuk munculnya gerakan-gerakan lain, terutama gerakan demokrasi jalanan yang menuntut adanya demokrasi yang berkerakyatan. Bukan demokrasi tiran. Politik sebagai salah satu alat negara sudah tidak mencerminkan lagi sebagai salah satu kendaraan rakyat untuk mengayomi segala aspek kehidupan berbangsa.

“Saya hanya kawatir, bila pemerintah tidak segera bertindak dalam memperbaiki demokrasi, nantinya akan banyak bermunculan gerakan demokrasi jalanan, dan ini akan menjadi masalah baru bagi pemerintah saat ini,” tambah Trijanto.

Trijanto juga mengatakan bila saat ini dicermati dari segi politik, munculnya anak dan menantu presien yang akan maju pada pilkada, bahkan saat ini partai terbesar di negeri ini sudah menancapkan kekuasaanya pada lingkaran  politik. Seperti contohnya dibeberapa daerah, dengan melihat profil tokoh, kemudian partai memberikan keleluasaan dibanding dengan kader yang sudah lama setia terhadap partainya.

“ Banyak sekali, ketimpangan saat ini saya rasa. Dari sisi politik terdapat sejumlah anak dan keluarga dari pemegang kekuasan pemerintah atau politik yang mengutamakan keluarga dari pada kader yang sudah puluhan tahun setia pada partai, ini salah satu contohnya,” kata Trijanto.

Baca Juga  Tolak Bencana Gelar Upacara Adat Larung Sesaji

Disisi lain, banyak aset dan sumber daya bangsa ini yang sudah dikelola oleh asing, dengan melihat fakta yang ada. Masuknya para tenaga kerja asing juga berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Salah satunya akan menimbulkan ketimpangan sosial. Pemerintah setidaknya lebih mengutamakan tenaga kerja dalam negri dengan menggunakan tenaga ahli dari luar negeri. Tidak malah semua tenaga kerja dan tenaga ahli didatangkan untuk mengurus sumberdaya di Indonesia.

Trijanto berharap dengan adanya deklarasi KAMI itu bisa membuat para penguasa dan politikus terbuka hatinya melihat betapa rusaknya kondisi bangsa saat ini. Jika ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin peristiwa 98 akan dapat muncul kembali dengan skala yang lebih besar. (an/am)

News Feed