oleh

Polres Nganjuk Ungkap Kasus Human Trafficking, Tetapkan Mucikari sebagai Tersangka

Nganjuk, (afederasi.com) – Jajaran unit pelayanan perempuan dan anak (UPPA) Polres Nganjuk berhasil menangkap satu orang yang diduga sebagai pelaku human trafficking (perdagangan manusia/ eksploitasi anak di bawah umur) di Dusun Kandangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.

Kasubag Humas Polres Nganjuk, Iptu Rony Yunimantara mengatakan, keberhasilan dalam mengungkap kasus dugaan perdagangan anak dalam dunia prostitusi berawal dari giat razia penertiban pekerja sex komersial (PSK) yang dilakukan petugas gabungan dari Satpol PP dan UPPA Polres  Nganjuk, pada Kamis (8/10/2020) sekira pukul 20.30 WIB.

“Saat melakukan penertiban di warung JMN, tim gabungan mendapati lima perempuan yang sedang menjajakan sex komersial. Lalu mereka dibawa ke rumah singgah Dinsos P3A dan dilakukan assessment. Hasilnya tiga diantaranya berusia belasan tahun atau dibawah umur,” ungkap Iptu Rony, Minggu (11/10/2020).

Lebih lanjut Rony menjelaskan, berdasarkan hasil assessment terhadap perempuan tersebut, ternyata mereka korban eksploitasi anak dibawa umur. Dari temuan itu, Satpol PP dan Dinsos P3A melaporkan kasus tersebut ke pihak Polres Nganjuk guna proses hukum.

“Selanjutnya JMN yang diketahui sebagai mucikari langsung diamankan di Polres Nganjuk beserta barang bukti lainnya berupa, kaos lengan panjang putih motif garis hitam, celana jeans model kodok warna biru dan uang tunai sejumlah Rp150 ribu,” paparnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun afederasi.com, tiga korban yang merupakan anak dibawah umur itu, rupanya telah dijajakan kepada para pelanggan (pria hidung belang). Dimana, untuk sekali kencan mereka dibayar Rp150 ribu.

Sedangkan dalam sehari, para korban menerima pelanggan antara 5 hingga 7 lelaki hidung belang.

“Pekerja sex dibawah umur ini, tidak mangkal di warung tersebut apabila tidak dihubungi sang mucikarinya (JMN),” jelasnya.

Rony menambahkan saat ini UPPA Polres Nganjuk telah menetapkan JMN sebagai tersangka. Sementara untuk tiga korban anak dibawah umur saat ini telah dilakukan trauma healing oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Nganjuk.

“Untuk tersangkan kami jerat pasal 88 Jo 83 UURI No 23 th 2002 tentang perlindungan anak sebagaimana telah diubah dengan UURI No 35 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang Undang dan/atau pasal 12 Jo pasal 2 UU RI No 21 th 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang diancam pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun,” pungkasnya. (ind/dn)

News Feed