oleh

Kota Marmer Darurat Narkoba, Dua Hari Sekali Satu Pengedar Dibui

Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia menunjukkan sejumlah barang bukti dari para tersangka pengedar narkotika di wilayah hukumnya

Tulungagung, (Afederasi.com) – Peredaran narkoba di Kota Marmer semakin memprihatinkan. Buktinya, selama sebulan terakhir Satreskoba Polres Tulungagung sudah mengamankan 17 tersangka. Artinya, dalam dua hari sekali ada satu orang dijebloskan bui hanya gegara menjadi budak narkoba.

Berdasarkan data dari Satreskoba Polres Tulungagung, 17 tersangka tersebut terdiri dari 12 tersangka kasus sabu-sabu. Sedangkan lima sisanya lantaran kasus pil dobel L.

Tak tanggung-tanggung, dari para tersangka petugas berhasil menyita barang bukti sebanyak 9,17 gram sabu dan 963 butir pil dobel L. Selain itu, petugas juga menyita barang bukti lain seperti uang hasil penjualan, pipet kaca, timbangan digital, alat bong, dan ponsel.

“Dari evaluasi kami, penggunaan narkoba di Tulungagung cenderung tinggi,” kata Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia saat menggelar konferensi pers pada (30/10/2019) siang.

Pandia mengatakan, banyaknya jumlah pengedar dan pecandu narkoba yang berhasil diungkap ini dianggap sebagai sebuah prestasi. Namun disatu sisi, hal ini menjadi peringatan keras kepada semua pihak khususnya warga Tulungagung. Artinya, narkoba benar-benar sudah menjadi ancaman dan harus diberantas ke akarnya.

Baca Juga  Home Industry Pembuatan Tembakau Gorila atau Ganja Sintetis Digerebek Polisi

“Dalam sebulan ada 17 orang yang diamankan, belum ditambah mirasnya 3 orang. Jika setahun sudah berapa,” ungkapnya.

Yang paling memprihatinkan, para tersangka tersebut bukanlah sepenuhnya orang baru. Namun ada residivis yang sebelumnya juga pernah ditangkap.

“Ada juga yang naik kelas, dulu ditangkap karena pil dobel l sekarang naik menjadi sabu-sabu,” katanya.

Pandia melanjutkan, untuk memberantas peredaran narkoba memang tidak bisa dilakukan hanya sepihak. Tetapi harus didukung banyak pihak, mulai dari semua instansi dan utamanya peran keluarga.

“Selain tindakan represif juga tindakan preventif,” katanya.

Untuk tindakan preventif lanjut Pandia, pihaknya mengedepankan peran anggota Babhinkamtibmas (BKTM) yang ada di setiap desa. Pihaknya juga sudah menginstruksikan agar BKTM diwajibkan menguasai wilayahnya. Sehingga jika ada temuan, bisa langsung ditindaklanjuti.

“Untuk tindakan represif ya seperti ini, jika unsur terpenuhi kita tangkap dan di proses hukum sesuai aturan yang ada,” imbuhnya.

Pandia menambahkan, pihaknya berharap dengan digelarnya konferensi pers terkait narkoba ini bisa membuka mata hati seluruh masyarakat. Bahwasannya narkoba adalah bahaya yang nyata karena bisa merusak masa depan bangsa. Hal ini juga sudah terbukti bahwa mayoritas yang tertangkap masih usia produktif yakni 20 tahun hingga 30 tahun.

Baca Juga  Ibu Muda Asal Lumajang Ditangkap Polisi, Rupanya Simpan Sabu

“Rata-rata alasannya mengkonsumsi narkoba untuk menambah stamina dan terpengaruh temannya,” pungkasnya. (ra/an)

vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed