oleh

Kecewa Penegakan Hukum di Kota Marmer, Massa Gelar Tahlilan Hingga Salat Jenazah di Depan Mapolres dan Gedung DPRD

Tulungagung, (afederasi.com) –  Sejumlah massa yang tergabung dalam Komite Penyelamat Penegak Hukum (Komat Gakkum) meluapkan kekecewaannya terhadap kasus yang ditangani Satreskrim Polres Tulungagung pada Rabu (2/9/2020) pagi.

Mereka menggelar aksi damai dengan membawa replika keranda mayat yang bertuliskan “Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah mati (modar) penegakan hukum di Tulungagung dan membawanya menuju Mapolres dan gedung DPRD Tulungagung.

Tak hanya itu, massa yang berjumlah sekitar 25 orang ini juga menggelar Tahlilan hingga Salat Jenazah didua lokasi tersebut. Hal ini sebagai bentuk ekspresi kekecewaan terhadap penanganan kasus anggota DPRD Tulungagung Suharminto.

“Awalnya berstatus tersangka (Suharminto-red), tiba-tiba bebas,” kata Koordinator aksi Gus Robet.

Gus Robet mengungkapkan, aksi damai ini sebagai bentuk kekecewaannya terhadap penegakan hukum di Tulungagung. Ia menganggap, kasus yang ditangani polisi tidaklah serius.

Untuk itu lanjut Gus Robet, aksi ini sengaja diawali di gedung DPRD karena anggota Dewan adalah perwakilan dari rakyat yang harus mendengarkan suara rakyat.

“DPRD adalah wakil rakyat, suara kami harus diwakilinya,” terangnya.

Baca Juga  Jelang New Normal, Satlantas Petakan Jalur Rawan Macet

Ditempat yang sama, kuasa hukum Komat Gakkum Heri Widodo menjelaskan, matinya penegakan hukum di Tulungagung ini ditunjukkan dengan dihentikannya kasus pengrusakan, dan ancaman di Pendopo Kongas Arum Kusumanin Bongso yang melibatkan anggota DPRD Tulungagung Suharminto.

Menurutnya, perwakilan tokoh agama dan tokoh masyarakat telah membuat laporan secara resmi dan sudah diterima oleh pihak kepolisian. Bahkan, pihaknya sudah menerima Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP).

“Nah pada pertengahan Agustus yang lalu, tanpa ada panggilan saksi, tanpa ada pemberitauan, tiba-tiba laporan kita dihentikan,” jelasnya.

Heri menyebut, proses hukum yang dilakukan penyidik tidak sejalan dengan Peraturan Kapolri (Perkap) nomer 6 tahun 2020 tentang Penyelidikan Tindak Pidana.

“Polisi harus mempedomani Perkap nomer 6 tahun 2020 dalam menyelesaikan kasus tindak pidana” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Kasatreskrim Polres Tulungagung AKP Ardyan Yudo Setyantono menjelaskan, saat ini kasus ancaman dengan kekerasan dengan tersangka Suharminto sudah selesai. Karena, Bupati Tulungagung selaku korban sudah memaafkan perbuatan tersangka dan mencabut laporannya.

“Korban kan sudah mencabut laporannya, jadi kasus selesai,” jelasnya.

Baca Juga  Detik-detik Proklamasi, Ratusan Pengguna Jalan Turun dari Kendaraan

Disinggung terkait penghentian laporan oleh sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama, Yudho mengungkapkan bahwa laporan tersebut tidak bisa ditindaklanjuti karena bukti-bukti yang kurang mendukung.

“Jika masyarakat memiliki bukti baru, silahkan diserahkan kepada kami. Jika bukti cukup, tidak menutup kemungkinan laporan itu akan dibuka lagi,” tukasnya. (yp)

News Feed