oleh

Ini Alasan Kajari Banyuwangi Panggil Kepala Desa Tegalharjo

Banyuwangi, (afederasi.com) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Banyuwangi memanggil Kepala Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore Mursyid untuk dimintai keterangan. Dimana, pemanggilan tersebut atas laporan warga tentang adanya dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor).

Surat dengan nomor B-024/M.5.21/Fd.1/02/2021 sebagai dasar pemanggilan untuk dimintai keterangan. Dalam pemeriksaan itu, Musyid diminta untuk membawa berkas ABPDes Tegalharjo sejak tahun 2017 hingga 2020.

Kasi Intelijen Kejari Banyuwangi, Hendro Wasisto mengatakan, pemanggilan tersebut untuk meminta keterangan Kepala Desa Tegalharjo, terkait laporan warga tentang  tipikor terkait anggaran APBDes tahun 2017 hingga 2020.

“Perkara ini masih dalam proses penyelidikan, mengumpulkan keterangan sejumlah para pihak,” katanya, Kamis (18/2/2021).

Penyelidikan ini, jelas Hendro, dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pristiwa pidana. Sesuai laporan yang masuk pada Januari 2021 lalu.

“Semua pihak masih dilakukan pemeriksaan saja,” cetusnya.

Hendro menambahkan, jika memang nantinya terbukti adanya tindak pidana yang dilakukan. Maka sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) di Kejari Banyuwangi, maka tahapannya akan ditingkatkan ke penyidikan.

Baca Juga  Diduga adanya Korupsi Program Kanggo Riko, Warga Tegalharjo Datangi Kejari Banyuwangi

“Nanti jika terbukti sampai adanya kerugian Negara dan pelanggaran hukum, maka dilakukan sesuai proses hukum yang berlaku,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah warga yang tergabung dengan forum masyarakat desa (Formades) Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Senin (8/2/2021) mendatangi kantor tindak pidana korupsi (Tipikor) di Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi.

Dimana tujuan kedatangan mereka yaitu guna melaporkan adanya dugaan penyelewengan penggunaan anggaran program kanggo riko yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Pada laporan Formades Tegalharjo, bahwasannya program kanggo riko yang seharusnya mendapatkan dana sebesar Rp2,5 juta setiap penerima. Ternyata di Desa Tegalharjo, penerima hanya mendapatkan sekitar Rp600 ribu hingga Rp1 juta. Padahal, di Desa Tegalharjo sendiri setidaknya ada 40 penerima.(ron/dn)

News Feed