oleh

PPLH Mangkubumi Investigasi Pembalakan Liar di Kalteng, Ini Hasilnya

Tulungagung, (afederasi.com) – Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi melakukan investigas adanya praktek pembalakan liar yang terjadi Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, pada bulan November hingga Desember 2020.

Dimana investigasi itu berkolaborasi dengan FAO UE FLEGT bersama Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Kalimantan Tengah dan Kaharingan Institute dengan masyarakat adat.

Hasil pemantauan di lapangan, di duga kuat bahwa beberapa perusahaan kayu mengorganisir dalam menggerakkan pembalak liar melakukan penebangan kayu dan tidak disertai dokumen yang sah.

“Atas temuan tersebut, JPIK Kalimantan Tengah bersama koalisi peduli lingkungan telah melaporkan kasus tersebut ke Bareskrim Polri di Jakarta. Pada akhir Desember 2020 tim Bareskrim Polri bergerak kelokasi penebangan dan mendatangi perusahaan-perusahaan yang diduga menampung kayu hasil kejahatan tersebut dan telah menangkap seorang aktor utama dibalik masifnya praktek kejahatan tersebut,” jelas Direktur Eksekutif PPLH Mangkubumi, Muhammad Ichwan.

Ia mengungkapkan, Bareskrim Polri telah mengamankan ribuan keping kayu olahan dan ratusan batang kayu bulat berjenis Meranti. Alat berat ikut diamankan yang diduga digunakan untuk menebang kayu di kawasan hutan.

“Kayu hasil pembalakan liar, berdasarkan informasi yang didapatkan pemantau indepeden, dikirim ke beberapa perusahaan kayu yang berada di Jawa Timur,” lanjutnya.

Menurutnya, perusahan yang diduga menampung, mengolah dan mengedarkan kayu hasil kejahatan kepada Lembaga Sertifikasi Kayu (SLK). Hasilnya, Sertifkat Legalitas Kayu (S-LK) perusahaan yang bersangkutan telah di bekukan.

Atas di tangkapnya pelaku utama pembalakan liar dan diamankannya ratusan batang pohon dan ribuan keping kayu olahan di Katingan ini, Direktur Ekeskutif PPLH Mangkubumi Muhammad Ichwan mengapresiasi atas kinerja Bareskrim Polri. PPLH Mangkubumi berharap peradilan memberikan hukuman berat terhadap pelaku sehingga memberikan efek jera.

“Buruknya tata kelola kehutanan akhir-akhir ini telah terlihat dampaknya yaitu bencana lingkungan berupa banjir bandang dan tanah longsor di mana-mana. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat untuk bergerak menjaga hutan dan memantau peredaran sehingga kayu-kayu yang tumbuh di hutan tetap lestari,” tutupnya. (ic/dn)

News Feed