oleh

IDI Beberkan Penyebab Meninggalnya Pasien Covid-19 Terus Bertambah

Surabaya, (afederasi.com) – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang menghadiri audiensi di Balai Kota Surabaya mengungkapkan beberapa faktor penyebab meningkatnya jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Hingga kini, pasien meninggal karena Corona bertambah menjadi 412 orang dan dari luar Surabaya sebanyak enam orang.

Ketua Pinere RSU Dr Soetomo, salah satu anggota IDI menerangkan bahwa adalah jumlah ventilator yang tidak sebanding dengan pasien bergejala berat yang sedang dirawat. Ia mengaku dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat pasien di RSU Dr Soetomo tidak mendapatkan fasilitas ventilator.

“Saya hampir menangis lihat kondisi yang sudah bergejala berat tapi kita juga keterbatasan ventilator. Apalagi melihat kondisi para perawat yang sudah lelah, gerah menggunakan APD sementara pasien terus berdatangan,” ungkap Sudarsono, ketika berlangsungnya audiensi di Balai Kota Surabay, Senin (29/6/2020).

Faktor kedua, disampaikan oleh Ketua IDI Dr Brahmana SpOG yakni banyaknya pasien yang tidak mendapatkan kamar di rumah sakit, lantaran pasien yang dinyatakan sembuh tidak segera dipulangkan, karena menunggu 2 kali uji PCR yang rentang waktu uji PCR pertama dan kedua sekitar 2 minggu.

Baca Juga  Rekom DPP PDIP Turun ke Eri Cahyadi dan Armuji

“Proporsi pasien yang keluar dan masuk tidak seimbang. Karena banyak pasien yang sudah di PCR 1 kali dan hasilnya negatif, ternyata menurut aturan belum bisa pulang karena menunggu 2 kali PCR. Banyak RS khawatir kalau pasien dipulangkan sebelum 2 kali PCR, nanti enggak bisa klaim biaya ke pemerintah. Jadi kami harap bisa dapat solusi di audiensi ini,” ujarnya.

Penyebab ketiga mengapa kematian karena COVID-19 jadi tinggi, menurut analisis dr. Christrijogo, spesialis anestesi dari RSUD Dr Soetomo karena adanya kondisi “happy hypoxia”.

Happy hypoxia adalah kondisi saturasi oksigen di tubuh menurun drastis karena adanya gangguan di paru-paru. Kondisi happy hypoxia ini bisa dialami orang-orang yang tidak mengalami batuk kering dan demam.

“Kondisi happy hypoxia ini memicu kematian mendadak meski orang tersebut tidak memiliki gejala Covid-19 atau bahkan sudah dinyatakan sembuh. Jadi untuk warga yang isolasi mandiri, harus selalu dicek saturasi oksigennya. Karena ada kondisi “happy hypoxia” yang membuat orang kehilangan kesadaran lalu meninggal mendadak” paparnya.

Baca Juga  Berkat Rekaman CCTV, Komplotan Jabrik Dibekuk Polisi

Menurut dr. Christrijogo, pada orang yang sehat biasanya memiliki saturasi oksigen sekitar 95 persen. Namun pada pasien Covid-19 saturasi oksigen ini bisa turun sampai 70 persen.

“Karena itu untuk warga yang isolasi mandiri harus dicek berkala saturasi oksigennya. Kalau di bawah 70 persen, kerja jantung, paru-paru, dan otak sudah terganggu. Meski dia OTG, kalau saturasinya turun drastis, mereka harus dirujuk ke RS untuk dapat perawatan ventilator,” tutup Christrijogo. (dwd/am)

News Feed