oleh

Diduga Korupsi Rp 1,3 M, Kejari Tetapkan Kabag Perawatan PDAM Tersangka

Tulungagung, (afederasi.com) – Setelah menjalani serangkaian penyelidikan dan penyidikan, Kejaksaan Negeri (Kejari) Tulungagung akhirnya menetapkan DH (45) warga Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru menjadi tersangka.

Pria yang kini menjabat Kepala Bagian (Kabag) Perawatan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Cahaya Agung tersebut, diduga melakukan korupsi dana perawatan pipa dan kendaraan dengan nominal mencapai Rp 1,3 Miliar.

“Atas penetapan tersangka ini, saudara DH kami tetapkan menjadi tahanan kota mulai hari ini,” kata Kepala Kejari Tulungagung Ansari melalui Kasi Intel Tri Agung Radityo, Kamis (3/9/2020).

Agung sapaan akrab Tri Agung Radityo mengungkapkan, adapun pertimbangan DH menjadi tahanan kota karena ia kooperatif selama menjalani penyelidikan dan penyidikan. Namun dengan status yang disandangnya kini, DH tidak diperkenankan keluar kota.

“DH kami minta wajib lapor dua Minggu sekali, yakni pada Senin dan Kamis,” katanya.

Sesuai dengan hasil ekspose, perbuatan DH ini memenuhi unsur-unsur sebagaimanan pasal 2 ayat 1, atau pasal 3, dan atau pasal 9 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Baca Juga  Ribuan Botol Miras Berbagai Merk Dibuldozer

Dimana dari semua alat bukti, DH sangat berperan melakukan dugaan korupsi dana perawatan pipa dan kendaraan di PDAM. Bahkan, penyelewengan ini diperkuat hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim dengan merugikan keuangan negara mencapai Rp 1.359.392.000.

“Jadi dugaan korupsi yang dilakukan mulai tahun anggaran 2016 sampai Februari 2020. Jadi ini sesuai dengan pasal 64 ayat 1, dimana tersangka melakukannya secara berkelanjutan,” imbuhnya.

Masih menurut Agung, sesuai dengan pasal 2 ayat 1 itu, tersangka terancam hukuman minimal 4 tahun. Sedangkan, pasal 3, dan pasal 9 ancaman minimal 1 tahun.

“Kami juga sudah meminta Direktur PDAM untuk menonaktifkan tersangka. Agar tersangka bisa fokus dengan kasus ini,” katanya.

Agung menjelaskan, adapun modus yang dilakukan tersangka selama kurun waktu empat tahun ini yakni, untuk dana perawatan mobil DH melakukan mark up biaya perawatan mobil dengan memalsukan nota atau kwitansi biaya perawatan mobil.

Modus serupa juga dilakukan untuk kegiatan perawatan pipa. Ia diduga melakukan mark up terhadap kegiatan dan pembiayaan tukang. Bahkan selisih anggaran mencapai Rp 900 juta selama empat tahun lebih dua bulan itu.

Baca Juga  Lepas Kendali, Pemotor Asal Slorok Tewas Seketika

“Jadi modusnya, si tukang hanya bekerja selama dua hari, namun oleh DH diklaimkan menjadi 10 hari,” terangnya.

Terlebih sejak tahun 2016, DH menjabat sebagai Kasi Bengkel Teknik, dan mulai tahun 2018 menjadi Kabag perawatan. Sehingga perannya cukup kuat. (yp)

News Feed