oleh

Tertarik Investasi Saham, Berikut Hal yang Harus Dipahami

Surabaya, (afederasi.com) – Dampak pandemi Covid-19 sangat memukul berbagai sektor ekonomi. Banyaknya pengurangan pekerja dan penurunan gaji, membuat banyak orang mencoba mencari alternatif penghasilan seperti halnya investasi saham.

Investasi saham sendiri tentu sangat menggiurkan bagi beberapa kalangan, terutama orang-orang yang memiliki keinginan untuk mengembangkan tabungannya di hari tua. Namun bagi pemula yang didominasi oleh kaum milenial, ada satu rambu yang harus diketahui saat akan membeli saham sebuah perusahaan, yaitu saham gorengan yang biasa dijalankan oleh bandar saham.

Rosita (23), seorang mahasiswa di Kota Malang yang sedang mengunjungi kerabat di Surabaya, mengaku memegang saham Bluechip di Indonesia. Saham tersebut dimiliki sejak tahun 2018 lalu. Jurusan managemen bisnis yang ia gandrungi membuat langkahnya semakin mulus saat pertama kali mendaftarkan diri pada sekuritas dan memilih saham perusahaan.

“Jadi yang saya tekankan pada diri saya sendiri itu adalah perbedaan, mana saham yang potensi dan mana saham yang gorengan. Nah menentukan saham gorengan atau enggaknya sih bisa dilihat dari beberapa faktor, salah satunya Unusal Market Activity (UMA),” ungkapnya, Sabtu (6/2/2021).

Rosita mengungkapkan, saham yang tersorot dalam UMA biasanya akan mendapat perhatian oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), lantaran kenaikan yang terlalu pesat dalam kurun waktu bahkan lebih dari 2 hari. Definisi pesat yang dimaksud Rosita adalah kenaikan hingga batas terbesar harian atau sebutannya Auto Reject Atas (ARA).

“Nah sementara untuk kelas saham di atas Rp 5.000/saham, ARA-nya hanya 20 persen. Kalau saham diantara Rp 200 – Rp 5.000/saham itu 25 persen. Terus saham dengan harga Rp 50-Rp 200/saham adalah sebesar 35 persen perharinya,” ujarnya.

Selain Rosita, Ramadika (24) yang merupakan seorang wirausahawan di Surabaya mengungkapkan, usai diPHK dari perusahaan ia memilih untuk berjualan produk susu secara online. Tidak hanya itu, Rama yang juga seorang trader forex sejak tahun 2015 ini memliki saham di salah satu perusahaan internasional, dengan aset hingga Rp 200 juta.

Pemuda ini membeberkan tips untuk mengenali saham gorengan, dengan melihat volume dan nilai transaksi yang tidak wajar. Saham gorengan dengan kapitalisasi pasarnya yang kecil dan masuk kategori lapis dua atau saham lapis tiga, namun volume dan nilai transaksi hariannya sangat tinggi dibanding perusahaan sejenis, bahkan hampir menyerupai saham unggulan (bluechip).

“Jadi kapitalisasi pasar ini ukuran besarnya sebuah perusahaan, yang didapat dari jumlah saham beredar perseroan dikali harga pasar. Kalau sudah kapitalisasi pasar yang kecil dan/atau kepemilikan investor ritel yang mini, maka bandar dapat lebih mudah dan lebih murah mengelola saham-saham gorengan yang menjadi komoditas dia di pasar modal,” kata Rama.

Selain itu lanjutnya, lantaran kinerja keuangan tidak setinggi kenaikan harga sahamnya di pasar, rasio keuangan dan valuasi saham gorengan biasanya terlalu tinggi dibandingkan pesaing terdekatnya, atau bahkan tidak masuk akal.

“Kalau bahasa sederhananya, saham ini gak bisa dianalisis secara fundamental,” paparnya.

Valuasi yang biasa digunakan perusahaan adalah rasio harga saham per nilai buku (price to book value, P/BV) dan rasio harga saham per laba (earning per share, EPS). Jika valuasi perusahaan terlalu jauh di atas pesaingnya, misalnya ketika rerata PBV sebuah industri diangka 1,5 kali, maka jika ada emiten yang PBV-nya 20 kali atau bahkan 100 kali maka sebaiknya dihindari.

“Dari teknikal, pergerakan saham tersebut juga terlalu berfluktuatif atau justru jarang ditransaksikan sehingga tidak memunculkan indikator analisis teknikal sama sekali,” imbuh Rama.

Sementara itu, seorang pemegang saham lain bernama Iswandi mengatakan untuk pemula, hendaknya tidak menerjunkan diri ke saham gorengan, apabila menginginkan dalam jangka panjang.

“Karena saham gorengan itu menurut saya lebih baik di-tradingkan saja. Soalnya kalau saham gorengan disimpan terlalu lama bisa menimbulkan kerugian berlipat ganda. Saham gorengan lebih baik ditransaksikan dalam jangka pendek dengan memanfaatkan fluktuasi harganya,” tutur Iswandi.

Menurutnya, price moving yang pesat dan tidak karuan membuat saham gorengan tidak sejalan dengan kinerja keuangan, atau tidak disertai dengan pemberitaan dan informasi dari internal emiten.

“Terkadang kinerja keuangannya tumbuh 50%, tetapi tidak jarang justru menciut atau kinerjanya turun lebih dari 50% ketika harganya naik kencang tak henti-hentinya, sehingga kenaikan harga saham seringkali tidak beriringan dengan kinerja dan aksi korporasi yang diumumkan emiten,” pungkas Iswandi. (dwd/yp)

News Feed