oleh

Penjualan Turun 80 Persen, Pengusaha batik Pilih Bertahan

Tulungagung, (afederasi.com) – Covid-19 yang masih mewabah di Indonesia berdampak terhadap pelemahan ekonomi yang menimpa hampir semua pelaku usaha tak terkecuali pengusaha batik.

Sepertinya halnya pengusaha batik Gajah Mada asal Kota Marmer ini, meski omset penjualannya turun hingga 80 persen, pengelola memilih tetap bertahan demi menjaga denyut ekonomi dan penghasilan para pekerjanya.

Marketing Pemasaran batik Gajah Mada Ike Yuliana mengungkapkan, sejak Covid-19 mewabah di awal tahun ini omset penjualan batik mengalami penurunan drastis. Bahkan, memasuki awal bulan Maret, penjualan batik ke luar daerah seperti Solo dan ke Jogja berhenti total.

“Meski sudah ada kontrak order, semuanya dibatalkan, dan kita tidak bisa berbuat banyak,” katanya.

Wanita yang akrab disapa Ike tersebut melanjutkan, ketika itu pihak manajemen sempat merumahkan sekitar 80 karyawannya. Langkah ini diambil untuk meminimalisir nilai kerugian agar tidak semakin bertambah.

“Kalau kita memaksa untuk terus produksi, maka kita akan semakin merugi, Karena barang tidak bisa keluar sama sekali (terjual-red),” jelasnya.

Baca Juga  Sidang Pra Peradilan Kedua Digelar, Termohon Satu dan Dua Kompak Sanggah Kuasa Hukum Istri Gaguk

Namun setelah melihat para pekerjanya yang tidak memiliki aktivitas lain lanjut Ike, akhirnya manajemen memutar otak dan memilih bertahan dengan mencoba membuat masker dengan batik. Selain itu, pihaknya juga memaksimalkan pemasaran online dan terus berkoordinasi ke instans-instansi dalam kota untuk memasarkan produknya.

“Jadi karyawan ini tetap masuk tetapi dengan sistem shift, tiga hari bekerja dan tiga hari masuk,” imbuhnya.

Masih menurut Ike, pelan tapi pasti ternyata langkah ini setidaknya bisa memberikan harapan bagi karyawannya. Yang sebelumnya tidak ada order sama sekali, saat ini sudah mulai ada pesanan meskipun dari dalam kota.

“Penurunan omset kami mencapai 80 persen bila dibandingkan sebelum Covid-19 mewabah, namun angka 20 persen ini ternyata sangat bermanfaat bagi kami,” ujarnya.

Sebelumnya kata Ike, dalam sebulan minimal pihaknya mengirimkan 1000 potong kain ke Solo. Jumlah itu belum termasuk kota lain seperti Jogja dan dari Tulungagung.

Ike menyebut, saat ini batik Gajah Mada tidak melulu menyediakan pakaian. Namun juga pernak-pernik lain seperti dompet, tas, sepatu, dan asesoris lainnya. Bahkan untuk mengikuti pasar, pihaknya juga mulai merambah ke sibori dan eco print, disamping batik cap serta batik tulis yang tetap menjadi identitasnya.

Baca Juga  Terungkap, Tambang Ilegal Milik KW Beromzet Ratusan Juta Per Bulan

“Batik kami yang membedakan dengan yang lain adalah gaya warna yang lebih njeragem ­atau lebih tajam,” jelasnya.

Ike menambahkan, sama dengan pengusaha yang lain, pihaknya juga berharap agar pandemi Covid-19 ini lekas berlalu. Kemudian, semua aktivitas kembali normal, dan tentunya omset penjualan batik terus meningkat. (yp)

News Feed