oleh

Panti Pijat, Refleksi dan Spa Boleh Dibuka, Berikut Persyaratannya

Surabaya, (afederasi.com) – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya telah menerbitkan petunjuk teknik (juknis).  Juknis tersebut untuk bidang panti pijat, spa dan refleksi. Juknis ini didasarkan pada pedoman petunjuk pelaksanaan Perwali Nomor 28 tahun 2020 tentang Pedoman Tatanan Normal Baru pada kondisi pandemi COVID-19.

Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya, rvan Widyanto menyatakan, berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi), pihaknya menerbitkan juknis Perwali tersebut, termasuk dalam bidang panti pijat, spa, dan refleksi.

“Kami telah membuat petunjuk teknis menyoal beberapa bidang untuk mendetailkan Perwali itu. Salah satunya dalam bidang gelanggang olahraga, hajatan, arena permainan, spa, bioskop, karaoke dan hiburan. Kami juga sudah berkirim surat ke Disbudpar dan melaporkan kepada Ibu Wali Kota soal juknis ini,” kata Irvan yang juga menjabat Kepala BPB dan Linmas Surabaya, Selasa (17/6/2020).

Irvan mengungkapkan, panti pijat, spa, dan refleksi merupakan tempat usaha, yang wajib melakukan assesment kesiapan tempat usaha sesuai protokol tatanan normal baru yang diatur dalam Perwali 28 Tahun 2020.

Baca Juga  Pandemi Corona, Anggaran Kesehatan SPM Sudah Habis

“Setiap tempat tersebut harus memastikan seluruh area bersih dan higienis, dengan melaksanakan pembersihan (disinfeksi) secara berkala, yakni setiap 4 jam sekali menggunakan pembersih dan disinfektan yang sesuai,” ujarnya.

Ia melanjutkan lokasi juga harus memisahkan jalur masuk dan keluar pengunjung/tamu, bila mana hanya ada satu pintu maka harus ada petugas di pintu masuk dan keluar. Selain itu, diperlukan juga pengurangan kapasitas usaha menjadi 50 persen dari keadaan normal sebelumnya.

“Juga menyediakan thermogun di pintu masuk tamu dan melarang masuk tamu yang bersuhu tubuh kurang lebih 37,5 derajat C, tidak menggunakan masker, dan wajib melakukan pemerikasaan kesehatan kepada karyawan secara berkala,” kata Irvan.

Demikian juga dengan penempatan wastafel dengan sabun cuci tangan dan dispenser pembersih tangan mengandung alkohol (hand sanitizer) di pintu masuk, resepsionis/kasir, pintu keluar, ruang terapis, dan tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau serta memastikan dispenser sabun/hand sanitizer diisi ulang secara teratur.

Untuk physical distancing, paling sedikit jarak 1 (satu) meter dengan memberikan tanda khusus pada antrian pengunjung, lift, area padat, jarak antar ruang ganti, jarak antar ruang bilas, kursi di ruang tunggu, dan area publik.

Baca Juga  Puluhan warga Datangi Kantor Kelurahan Kepatihan, Ini Tuntutan Mereka

“Juga harus pula menyediakan alat-alat pelindung diri bagi pekerja seperti masker, sarung tangan dan face shield. Terapis SPA menggunakan APD level 2 berupa sarung tangan, masker, apron, hair cap dan faceshield ketika melakukan terapi. Mengemas bahan habis pakai dengan ukuran 1 (satu) kali pemakaian,” paparnya.

Kendati demikian, dibutuhkan juga pemasangan himbauan protokol kesehatan (cara mencuci tangan, cara pencegahan penularan Covid-19, etika batuk/bersin, anjuran penggunaan barang pribadi,  dan lain-lain di tempat-tempat strategis (di pintu masuk dan tempat lain yang mudah diakses pengunjung). Wajib menyediakan akses layanan kesehatan. Wajib menyediakan form surat pernyataan sehat untuk pengunjung.

“Pengaturan waktu kerja tidak terlalu panjang yang akan mengakibatkan pekerja kekurangan waktu untuk beristirahat yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh/immunitas tubuh. Untuk pekerja shift, jika memungkinkan tiadakan shift 3 (waktu yang dimulai pada malam hingga pagi), dan bagi pekerja shift 3 supaya diatur agar bekerja terutama pekerja yang berusia kurang dari 50 tahun,” tutup Irvan. (dwd/am)

News Feed