Jumat, 19 Maret 2021, 18:38 WIB

Mengejutkan, Komunitas Ini Lakukan Riset di Sungai Tambak Wedi, Berikut Hasilnya

Surabaya (afederasi.com) – Komunitas gabungan yang terdiri dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Surabaya (Mupalas), Ecoton, dan Komunitas Tolak Plastik sekali pakai (KTP) melakukan penelitian di Sungai Tambak Wedi.

Riset ini untuk mengetahui kandungan air di sungai tersebut apakah berbahaya atau beracun, mengingat bagian atas air tertutup busa.

Dari hasil yang didapat cukup mengejutkan. Mereka menemukan kandungan air di sungai telah terkontaminasi dengan cairan kimia bernama fosfat dan khlorin.

Pengurus Harian Mupalas Faisol Mardiono mengatakan, kondisi di Sungai Tambak Wedi tidak lepas dari pencemaran deterjen dari masyarakat sekitar.

“Kami kawatir kondisi akan semakin parah dalam beberapa tahun ke depan. Perkiraan paling buruk, dua tahun lagi ekosistem Sungai Tambak Wedi (bisa) buyar,” ungkap Faisol dalam pernyataan resminya, Jumat (19/3/2021).

Faisol mengungkapkan, dalam penelitian kali ini para anggota komunitas mengambil sampel air di tiga titik muara Sungai Tambak Wedi. Mereka menggunakan alat yang disebut Total Dissolved Solid (TDS) atau kandungan ion terlarut dalam air. Kemudian pengukur fosfat, amonium, pH meter, khlorin dan plankton net untuk mengambil sampel mikroplastik.

Baca Juga  Order Sepi, Driver Ojol Nyambi Edarkan Sabu

Sementara itu, peneliti dari KTP bernama Miftakhul Rohmah menjelaskan bahwa kandungan fosfat di Sungai Tambak Wedi sebesar 45 part per milion (ppm). Sementara untuk TDS mencapai 4.015 hingga 5.012 ppm.

“Padahal untuk baku mutu air sungai parameter TDS harus lebih kecil 1.500 ppm dan kadar fosfat tidak boleh lebih dari lima ppm,” ujarnya.

Kemudian kandungan ph pada air Sungai Tambak Wedi sebesar 8,6. Ini artinya air di sungai tersebut dalam kondisi basa. Jika kandungan ph tinggi dan fosfat jauh di atas baku mutu, maka sungai Tambak Wedi mengandung deterjen.

“Deterjen mengandung senyawa karsinogenik yang tidak dapat terurai di alam. Kondisi ini nantinya bisa menghancurkan ekosistem di Sungai Tambak Wedi dan juga Selat Madura,” kata Miftakhul.

Kendati demikian, bahaya fosfat sendiri antara lain dapat menghambat penguraian bahan organik di perairan. Kemudian menyebabkan eutrofikasi atau penyuburan perairan sehingga terjadi ledakan populasi alga yang akan menurunkan oksigen terlarut. Situasi tersebut bisa menyebabkan kematian biota air dan ikan.

Baca Juga  Tolak RS Siloam, Warga Menanggal Surabaya Gelar Unras

“Busa yang timbul di permukaan air juga mampu menghalangi penetrasi matahari ke kolom air. Kondisi ini dapat menghambat fotosintesis dan mengganggu mobilitas biota perairan. Selain itu, juga menyebabkan pH air menjadi basa dan bisa membahayakan kehidupan biota air,” pungkas Miftakhul. (dwd/yp)

News Feed