Sabtu, 6 November 2021, 22:06 WIB

Laju Pertumbuhan Ekonomi Tulungagung Alami Kontraksi Hingga 8,4 Persen

Tulungagung, (afederasi.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tulungagung telah mencatat laju pertumbuhan ekonomi di daerah setempat mengalami kontraksi hingga 8,4 persen.

Sebab, di 2019 laju pertumbuhan ekonomi diangka 5,32 persen, kemudian di 2020 kembali terkontraksi hingga minus 3,09 persen.

“Laju pertumbuhan ekonomi terus terkontraksi hingga lebih dari 8,4 persen,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tulungagung, Mohammad Amin, melalui Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis, Imam Rochani.

Imam melanjutkan laju pertumbuhan ekonomi Tulungagung di 2019 senilai Rp18.402 Miliar, dan di 2020 menjadi Rp18.077 Miliar. Artinya, ada penurunan secara signifikan hingga Rp352 Juta.

“Bisa dikatakan dalam setahun terakhir ini, pandemi Covid sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Tulungagung,” terangnya.

Menurut Imam, Kabupaten Tulungagung angka kontraksinya lebih tinggi daripada Provinsi Jawa Timur (Jatim), dimana Jatim saat ini terkontraksi di angka 7 persen, sementara Tulungagung hingga 8,4 persen.

“Bisa dikatakan Covid-19 lebih berpengaruh di Tulungagung secara umum dibandingkan dengan Jatim,” imbuhnya.

Untuk kabupaten keseluruhan di Jatim rata- rata mengalami kontraksi dalam laju pertumbuhan ekonomi. Tulungagung masuk diantara tujuh kabupaten/ kota yang terdampak paling parah.

Baca Juga  Angka Kemiskinan Kabupaten Tulungagung Melonjak Hingga 0,59 Persen

“Kontraksinya sudah tidak melambat lagi, namun sudah turun,” tuturnya.

Masih menurut Imam laju pertumbuhan perekonomian setingkat Kabupaten/ Kota untuk perhitungannya identik dilakukan tahunan. Misalnya, laju perekonomian 2019 bakal di hitung di tahun setelahnya, yakni 2020.

“Jadi nanti kita bakal menghitung laju perekonomian 2021 ini ketika awal 2022 nanti,” jelasnya.

Hal ini disebabkan karena untuk menghitung laju perekonomian harus melibatkan keseluruhan lapangan usaha dalam perekonomian. Ada 17 indikator lapangan usaha, seperti pertanian, perdagangan, jasa, penggalian, dan lain sebagainya.

Dalam kebutuhan data yang dibutuhkan untuk menghitung laju pertumbuhan ekonomi berbeda halnya dengan data yang dibutuhkan saat menghitung angka kemiskinan. Untuk menghitung angka kemiskinan hanya membutuhkan pendekatan pengeluaran dalam rumah tangga.

“Namun, saat kita menghitung laju pertumbuhan ekonomi, kami harus melakukan survey data primer dan sekunder. Seperti data dari institusi atau OPD terkait,” ujarnya.

Lanjut Imam, yang dinamakan sebuah usaha bukan hanya seseorang yang jualan saja. Namun pihaknya juga melakukan surve ke seluruhan 17 indikator tadi.

Baca Juga  Angka Kemiskinan Kabupaten Tulungagung Melonjak Hingga 0,59 Persen

“Seperti halnya para petani yang menggarap sawahnya sendiri. Seluruh lapangan usaha akan menjadi data kami,” tandasnya. (er/dn)

News Feed