oleh

Komisi I DPR RI : Siaran Digital, Lebih Berkualitas dan Hidupkan Demokratisasi Penyiaran

Lombok Tengah, (afederasi.com) – Komisi I DPR RI menyebutkan perubahan siaran analog ke siaran digital akan memiliki banyak manfaat dan lebih menguntungkan. Selain mampu menyajikan konten informasi yang lebih beragam dan berkualitas. Hal ini sebagai bagian dari pemenuhan atas hak masyarakat untuk tahu.

Ketua Komisi I DPR RI Meutia Hafid yang juga mantan penyiar salah satu TV swasta nasional itu menyebut siaran digital akan menghidupkan ruang demokrasi dalam dunia penyiaran.

“Konten yang disajikan, tidak hanya informasi nasional, tapi juga konten-konten lokal yang menginspirasi kemajuan indonesia. Demikian juga dengan digitalisasi, akan lebih banyak masyarakat yang bisa ikut terlibat dalam dunia usaha penyiaran. Sehingga tidak hanya dikuasai oleh pengusaha media tertentu saja,”  ungkapnya saat membuka sosialisasi dan publikasi yang diinisiasi KPI Pusat bertajuk Menjaga Indonesia dan Perbatasan Melalui Penyiaran Digital, di hotel DMax di Praya Lombok Tengah Minggu (11/10/2020).

Menurutnya, ASO (analog swiff off)  atau siaran digital, yang akan diberlakukan tahun 2022 mendatang, akan memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Disamping lebih efisien dari sisi teknologi dan lebih menjamin secara kualitas informasi dan mendorong demokratisasi pola penyiaran.

Juga dapat mengatasi persoalan blank spot. Karena  ada keharusan bagi pemerintah untuk membantu site of the box agar masyarakat bisa mengakses siaran digital, ungkap politisi Golkar yang sekaligus mantan jurnalis itu.

Sementara itu Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Agung Suprio mengatakan, di tahun 2022 sebagai ambang akhir penyiaran analog secara nasional di tanah air. Karena itu, masyarakat diharap mulai membiasakan diri dengan siaran digital.

“Dari sisi manfaat, pola siaran digital ini jauh lebih baik ketimbang siaran analog seperti saat ini,” jelasnya.

Digitalisasi penyiaran, menurut Agung, merupakan suatu keniscayaan. Ini karena sistem tersebut sudah digunakan hampir di seluruh negara di dunia. Sementara di ASEAN, hanya Indonesia dan Timor Leste yang belum melakukan transformasi sistem teknologi digital ini secara penuh.

Indonesia, lanjutnya, telah menggunakan pola penyiaran analog hampir 60 tahun lebih. Padahal jika dibanding negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merupakan pionir yang akan melaksanakan sistem siaran digital lebih awal. Bahkan, Thailand menjadikan Indonesia sebagai contoh persiapan digital justru sudah lebih dulu melaksanakannya.

Lewat sistem penyiaran digital, kata Agung masyarakat akan lebih mudah menangkap siaran televisi dimana saja berada. Kualitas gambar dan suara yang diterima juga lebih jernih dan sangat jelas. Sistem siaran ini sekaligus menyudahi persoalan blank spot di tanah air.

Kelebihan lain dari digitalisasi penyiaran ini membuat pemerataan layanan informasi publik. Masyarakat Indonesia yang berada di wilayah terdepan dan perbatasan juga bisa denga mudah menikmati siaran.

“Bahkan masyarakat Indonesia yang berada di pelosok terpencil dan pedalaman sekalipun bisa menikmati siaran ini,” ucapnya.

Dia menambahkan ada misi demokratisasi penyiaran dengan pola digital. Manfaat ini terutama dirasakan dalam berbangsa dan bernegara serta menangkal siaran asing yang kerap kali meluber di wilayah perbatasan. (zan/dn)

News Feed