oleh

Investasi Saham Sejak Dini, Kenapa Tidak?

Surabaya, (afederasi.com) – Dewasa ini investasi saham mulai dilirik kalangan muda yang berusia diatas usia 20 tahun. Mereka sudah mulai teredukasi bahwa menabung tidak hanya bisa dilakukan dilakukan dengan menyetor uang di bank.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) Puji Sucia Sukmaningrum mengatakan, fenomena ini sebagai suatu tren yang positif.

“Secara tidak langsung, ini menunjukkan masyarakat mulai tertarik dengan pasar modal,” katanya kepada afederasi.com Sabtu (13/2/2021).

Dengan begitu lanjut Puji, masyarakat bisa menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan besar yang go public dan mendapatkan keuntungan berupa dividen maupun capital gain dari investasi saham yang ditransaksikan.

Puji mengungkapkan, tren saham bisa juga menjadi edukasi bagi generasi milenial bahwa menabung tidak hanya bisa dilakukan dilakukan dengan menyetor uang di bank. Menurutnya, tinggi peminatan saham dibandingkan dengan investasi lain lantaran saham menjadi investasi dengan perencanaan keuangan yang bersifat jangka panjang.

Ia juga menjelaskan bahwa apabila investasi dilakukan dan dibarengi dengan kemampuan manajemen saham yang baik, maka seseorang bisa mendapatkan keuntungan yang tinggi bahkan berkali-kali lipat.

“Tetapi pemuda yang ingin investasi disaham juga harus mengetahui risk dan return yang akan didapat karena investasi ini tergolong high risk,” ujarnya.

Dari sanalah ia berinisiatif untuk memberikan tips, supaya orang-orang pemula dapat meminimalisir kerugian. Hal pertama yang dijelaskan yakni lakukan cek fundamental terhadap saham perusahaan yang akan dibeli.

“Pengecekan ini bisa dilakukan dengan melihat reputasi dan laporang keuangan perusahaan,” kata Puji.

Tips selanjutnya adalah calon investor harus memilih saham yang aktif diperdagangkan dengan melihat daftar saham yang masuk dalam JII atau LQ45. Sedangkan untuk tips ketiga, melakukan analisa teknikal yaitu melihat tren harga saham secara historis.

“Terakhir, biar memudahkan mau pilih saham apa, kita bisa memilih saham yang produknya kita sendiri pakai,” paparnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa harga pasar saham seringkali mengalami fluktuasi karena berbagai faktor, baik faktor internal perusahaan maupun faktor makroekonomi. Karena itu, para investor perlu memiliki manajemen yang baik sebelum memilih jenis saham.

“Pertama, apabila risiko berasal dari internal perusahaan, maka investor dapat meminimalisir dengan cara investasi berbagai macam saham, yang memiliki karakteristik atau sektor yang berbeda,” tuturnya.

Untuk yang kedua, lanjutnya, investor dapat memilih saham yang bertahan atau stabil apabila sewaktu-waktu terjadi guncangan kondisi makro.

“Seperti contoh dalam pandemi ini, nabung saham pada perusahaan sektor barang konsumsi, farmasi dan pertambangan banyak diminati,” ucap Puji.

Kendati demikian, Puji juga menekankan bahwa managemen keuangan merupakan hal penting dilakukan supaya tetap bisa konsisten menabung saham setiap bulannya. Manajemen tersebut dapat dilakukan menggunakan prosentase dalam menyisihkan uang untuk menabung.

Dosen yang merupakan kelahiran Gresik itu mencontohkan, setiap bulannya seseorang dapat membagi pendapatannya sebesar 30 persen untuk membayar kewajiban atau cicilan, sebanyak 2,5 persen untuk zakat, 50 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 7,5 persen untuk hiburan dan 10 persen untuk menabung.

“Prosentase semacam itu dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Namun, hal yang paling utama adalah konsisten disiplin menabung setiap bulan dan memahamii benefit dari menabung,” pungkas Puji. (dwd/yp)

News Feed