oleh

Hadapi PSBB, Pemilik Lapak Online Siap Tancap Gas

Surabaya, (afederasi.com) – Rencana pemerintah untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di pulau Jawa-Bali mulai tanggal 11-25 Januari tidak membuat risau pengusaha yang berbasis internet di Surabaya. Pasalnya, sejak Covid-19 mewabah sejak awal Tahun 2020 yang lalu, masyarakat sudah mulai beralih ke jual beli online.

“Waktu PSBB terakhir di Surabaya beberapa bulan kemarin itu penjualan kami pesat meningkat. Sehari saja paling sedikit omset kami 3 juta perhari,” ungkap Salman (38), salah satu penjual makanan buatan rumah saat diwawancarai reporter Afederasi.com di rumahnya, Jumat (8/1/2021).

Salman mengungkapkan, ia bersama 5 orang karyawannya telah bersiap sejak seminggu lalu, saat ada kabar pembatasan kegiatan di Surabaya mulai tanggal 11 Januari. Dirinya yang merupakan salah satu pemilik lapak di salah satu e-commerce, menyatakan untuk targetnya kali ini tidak hanya Rp 3 juta perhari, namun 4 hingga 5 juta perhari.

“Jadi kalau misal target tercapai paling banyak 5 juta, saya akan menyisihkan beberapa persen buat bonusan karyawan saya. Hitung-hitung kasihan mereka gabisa tahun baruan di kampung halaman kemarin,” ujarnya.

Baca Juga  Pemberlakuan PSBB Jawa-Bali Dikawatirkan Ganggu Pemulihan Ekonomi

Sementara itu, seorang penjual minuman susu di surabaya bernama Monica (29) juga mengatakan bakal menambah stok untuk berjaga-jaga akan banjir pesanan. Menurutnya, pembatasan kegiatan di Jawa-Bali ini merupakan golden momen bagi para pemilik lapak online, terutama produk makanan dan minuman.

“Karena memang kan makanan minuman baik ringan atau berat itu sifatnya kontinual. Jadi nanti akan ada promo spesial yang saya hadirkan di website saya sama medsos. Nah pembatasan kegiatan ini otomatis jadi golden momen buat kita gas pol,” kata Monica.

Menurutnya, tidak menampik fakta bahwa pembatasan kegiatan ini akan berdampak negatif pada para pedagang atau pemilik lapak yang berjualan “offline”. Pasalnya, beberapa temannya yang juga pedagang pun kini beralih ke penjualan online.

“Ya memang ekonomi kota juga akan berguncang sih, terutama buat pedagang kecil yang hari-harinya jualan di pasar, warung bahkan yang di mall,” papar lulusan sarjana kampus swasta itu.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana menegaskan instruksi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jawa-Bali dari Pemerintah Pusat tidak jauh beda dengan Perwali No. 67 Tahun 2020. Dirinya berdalih bahwa Perwali No 67 Tahun 2020 ini hanya saja butuh penyempurnaan di Bab V tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat.

Baca Juga  Berawal dari Minta Teman, Wanita ini Raup Jutaan Rupiah dari Menanam

“Yang perlu ditambahkan itu hanya di Bab V dengan menambahkan bahwa Perwali 67 ini tetap mengacu pada Mendagri atau keputusan di atasnya, sehingga kalau ada keputusan lagi di atasnya, kita tidak perlu merubah lagi Perwalinya,” tutur Whisnu.

Whisnu menyatakan, perubahan Perwali itu nanti cukup diatur dalam Keputusan Wali Kota Surabaya dengan memasukkan beberapa poin yang ada di dalam instruksi Mendagri. Di antaranya, work from home (WFH) 75 persen.

“Tempat perbelanjaan atau mall harus tutup pukul 19.00 WIB, sementara aktifitas lain tetap dibatasi sampai pukul 22.00 WIB. Kemudian kapasitas pengunjung restoran 25 persen, yang selama ini diatur Perwali maksimal 50 persen,” ucapnya.

Kendati demikian, Pemkot Surabaya juga akan membuat surat edaran terkait pengunjung rumah makan dan warkop maksimal 25 persen dengan menata kursi sesuai kuota, bukan disilang lagi. Hal ini, lantaran selama ini tanda silang itu tetap ditempati saat pengunjung membludak. Whisnu juga menjelaskan, akan melakukan sweeping kesiapan rumah makan sehari jelang penerapan PSBB tanggal 11 Januari nanti.

Baca Juga  Dinkopum Fokus Percepat Pemulihan Ekonomi

“Kita sudah siapkan juga itu nanti H-1 mungkin akan kita sweeping pada seluruh tempat restoran dan rumah makan itu untuk mengecek kesiapan pemberlakuan PSBB tgl 11 Januari nantinya,” pungkas Whisnu. (dwd/yp)

News Feed