oleh

Serapan Pupuk Organik Masih Rendah, Ini Alasannya

Tulungagung, (afederasi.com) – Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Tulungagung menyebutkan hingga kini pemakaian pupuk organik di kalangan para petani masih terbilang rendah.

Di tahun ini Disperta telah mengusulkan eRDKK 2020 untuk pupuk organik sebanyak 29.363 ton. Namun, sejak Januari hingga Agustus jumlah pupuk organik yang diserap oleh petani sebanyak 5.793 ton.   

“Ya memang saat ini minat petani menggunakan pupuk organik masih terbilang rendah. Karena prosesnya lama ketika menggunakan pupuk organik, tidak bisa instan, ini yang membuat petani tetap memilih pupuk kimia lainnya,” ungkap Kasi Pupuk Pestisida dan Alsintan Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung, Triwidyono Agus Basuki, Minggu (11/10/2020).

Menurut Okik sapaan Triwidyono Agus Basuki, penggunaan pupuk organik pada suatu tanaman memang cenderung lama. Hal ini yang membuat para petani, lebih memilih memakai pupuk kimia yang dapat memberikan hasil yang instan. Namun, terlalu banyak menggunakan pupuk kimia akan berdampak pada menurunnya unsur hara pada tanah.

“Proses yang lama ini membuat petani tidak telaten ketika menggunakan pupuk organik. Namun, petani tidak memikirkan kondisi tanah saat ini. Padahal kondisi tanah di Kabupaten Tulungagung sudah tidak memungkinkan untuk diberi pupuk kimia,”  jelasnya.

Baca Juga  Pemprov Jatim Pantau Kasus Pemblokiran Pupuk Subsidi di Tulungagung

Oky menjelaskan jika saat ini rata-rata unsur hara di Tulungagung hanya berkisar 2 persen. Bahkan beberapa wilayah tidak lebih dari 1 persen. Padahal kandungan unsur hara yang baik bagi tanaman lebih dari 5 persen.

Sementara untuk perbaikan unsur hara, setidaknya diperlukan waktu sekitar 2-3 tahun kedepan agar kondisi tanah kembali membaik. Tentunya, petani harus secara rutin dalam menggunakan pupuk organik.

“Tapi masalah dilapangan itu banyak lahan pertanian yang disewakan. Tentu saja penyewa tidak mau rugi, dan karena mengejar keuntungan maka penyewa lebih memilih menggunakan pupuk kimia dibandingkan menggunakan pupuk organik,” imbuhnya.

Okik menambahkan, adapun faktor lain yang membuat serapan pupuk organik tergolong rendah adalah, pupuk jenis ini rata-rata hanya dimanfaatkan pada tanaman horti.

Sementara untuk tanaman padi petani cenderung menghindari pupuk tersebut. Sebab pupuk organik yang dapat memperbaiki unsur hara ini justru dapat menimbulkan gulma pada tanaman padi.

“Kalau petani palawija seperti kacang, jagung dan tanaman horti masih membutuhkan pupuk organik. Namun, kalau petani padi memang cenderung tidak mau untuk menggunakan” imbuhnya.

Baca Juga  Puluhan Ribu Petani Bakal Kesulitan Dapatkan Pupuk Bersubsidi, Ini alasannya

Sekedar diketahui, pada realokasi tahap II ini Disperta Tulungagung telah mengusulkan penambahan pupuk organik sebanyak 193 ton. Namun, oleh pemerintah pusat diberikan alokasi sebanyak 1.793 ton pupuk organik. Jumlah ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan usulan.

“Jika pupuk subsidi ini tidak tertebus semua hingga akhir 2020, tentu semua pupuk  akan dikembalikan ke negara,” pungkasnya. (dn)

News Feed