oleh

Petani Menjerit, DPRD Tuding ada Permainan Pembelian Pupuk Sistim Paket

Nganjuk, (afederasi.com) – Petani di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur mengeluhkan pembelian pupuk secara paket. Mereka membeli pupuk bersubsidi juga diwajibkan membeli pupuk non subsidi.

Khamim Tohari, Ketua Kelompok Tani Karya Mulya Desa Banjaranyar, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk mengatakan mayoritas petani sangat keberatan untuk membeli pupuk secara paket. Apalagi juga disediakan pupuk import yang disinyalir kuat kurang bagus untuk tanaman.

“Setiap membeli pupuk apapun harus diimbangi beli pupuk organik. Apabila petani tidak mau ambil pupuk organik maka diganti pupuk import,” keluhnya kepada awak media.

Dijelaskan pembelian pupuk sistim paketan di kelompok tani adalah sebagaimana instruksi kios. Kkios sendiri menurutnya instruksi dari distributor. Mestinya petani hanya membeli pupuk yang dibutuhkan saja. Sementara yang terjadi kelompok tani harus mengambil pupuk subsidi dan non subsidi.

Ditempat terpisah  R. Bambang Agus Hendro Wibowo Sekretaris Komisi II DPRD Nganjuk mengatakan, pembelian pupuk sistim paket tidak pernah ada. Petani diperbolehkan ambil pupuk sebagaimana kebutuhannya. Tapi apabila petani wajib beli pupuk paketan (beli pupuk subsidi harus beli pupuk organik/import) ini sangat disayangkan.

Baca Juga  Purhatani : Pemanfaat Kawasan Hutan Wajib Penuhi Kewajiban Bayar PNPB

“Disini pasti ada permainan, yang ingin mengeruk keuntungan untuk pihak-pihak tertentu. Karena itu Komisi II dalam waktu dekat akan melakukan sidak ke kelompok-kelompok tani, kios bahkan distributor pertanian akan kebenaran tersebut,” tandas kang Bowo sapaan akrab politisi Gerindra kepada afederasi.com, (07/09/2020).

Hal senada disampaikan oleh Wakil Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, pihak distributor dan pengecer seyogyanya tidak menjual pupuk secara paketan. Karena sama saja mereka memaksa petani untuk membeli pupuk nonsubsidi. Apalagi penjualan pupuk dengan sistim paketan dengan alasan apapun sangat tidak dibenarkan.

” Kasihan petani kalau harus beli pupuk dengan sistim paket, apalagi pupuk yang harus dibeli tidak terpakai,” kata Marhaen Djumadi.

Adapun harga pupuk bersubsidi sebagaimana harga eceran tertinggi (HET) Kabupaten Nganjuk yang telah ditetapkan diantaranya, Urea Rp 90 ribu per sak (50 kg) atau Rp 1800 per kg, pupuk NPK Phonska Rp 115 ribu per sak (50 kg) atau Rp 2300 per kg, pupuk organik Petroganik Rp 20 ribu per sak (40 kg) atau Rp 500 per kg, ZA Rp 70 ribu per sak (50 kg) atau Rp 1400 per kg, pupuk SP-36 Rp 100 ribu per sak (50 kg) atau Rp 2 ribu per kg dan sebagainya. (Ind/am)

News Feed