oleh

Jelang Ajaran Baru, Omzet Penjualan Perlengkapan Sekolah Menurun

Tulungagung, (afederasi.com) – Jelang tahun ajaran baru, omzet penjualan perlengkapan sekolah mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena ketidakpastian kapan belajar di sekolah mulai kembali diberlakukan. Padahal, biasanya tingkat penjualan melonjak drastis ketika penerimaan siswa baru.

Pengelola toko buku Sarjana dan toko buku Ringan, Geger Kuncoro mengatakan, didua toko yang dikelolanya tersebut penurunan omzet penjualan perlengkapan sekolah mencapai 35 persen. Menurutnya, penurunan ini mulai dirasakan sejak akhir bulan Februari atau awal mewabahnya Covid-19 di Kota Marmer.

“Normalnya dalam sebulan kami bisa menjual 20 karton buku, karena ada Covid-19 kita hanya bisa menjual 13 karton saja,” katanya.

Pria yang akrab disapa Kuncoro tersebut mengungkapkan, penurunan omzet tidak hanya pada penjualan buku saja. Tetapi juga perlengkapan sekolah yang lain seperti bulpoin, penggaris, penghapus, pensil, dan sebagainya. Bahkan, juga menjalar ke barang-barang asesoris seperti kaos kaki, pita, gantungan kunci.

“Semua perlengkapan sekolah turun omzetnya, namun untuk perlengkapan kantor mengalami penurunan sekitar 10 persen saja,” imbuhnya.

Baca Juga  Mengenal Satpas SIM Tangguh Semeru dengan Screening Room

Kuncoro melihat, penurunan omzet ini juga berpengaruh dengan jumlah pengunjung yang datang ke toko. Menurutnya, sebelum Covid-19 dalam sehari setidaknya ada 700 orang yang datang, namun saat ini hanya menyisakan 400 orang saja.

Masih menurut Kuncoro, diawal bulan Juni ini atau jelang tahun ajaran baru memang ada sedikit kenaikan omzet sebesar 7 persen. Namun, karena belum adanya kepastian dari pemerintah terkait zona yang aman untuk kembali belajar di sekolah, ia memprediksi omzet penjualan akan mengalami penurunan lagi.

“Kebijakannya kan masih tarik ulur, mungkin ini yang menyebabkan orang tua murid memilih menunda belanja perlengkapan sekolah,” terangnya.

Kuncoro melanjutkan, imbas penurunan omzet ini juga berdampak pada pemasukan. Untuk menyiasati kerugian, pihaknya memberlakukan 15 hari kerja kepada karyawannya. Artinya, seluruh karyawan tetap bisa bekerja dengan sistem satu hari kerja dan satu hari libur.

“Jadi semua tetap bisa bekerja, meskipun gajinya tinggal 60 persen,” tambahnya.

Disinggung apakah pengelola toko memiliki strategi untuk mengatasi hal ini, Kuncoro mengatakan bagi karyawan yang sedang di rumah diminta untuk membantu memasarkan barang-barang melalui media sosial masing-masing. Hal ini, juga untuk melihat respon masyarakat dan memperkenalkan penjualan online yang mulai dirintis.

Baca Juga  Jalani Pengobatan, Belasan ODGJ Dikirim ke RSJ

“Respon masyarakat masih minim, meskipun barang yang kami jual harganya sama dengan yang sistem offline,” tukasnya. (yp).

News Feed