oleh

Imbas Covid-19, Omzet Penjualan Kerupuk Turun 40 Persen

Tulungagung, (afederasi.com) – Hampir seluruh pelaku UMKM terdampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah kerupuk “Rejo” milik Sugiri di Desa Plosokandang Kecamatan Kedungwaru. Selama tujuh bulan terakhir, omzet penjualannya menurun mencapai 40 persen per bulan.

“Penurunan penjualan ini (kerupuk-red) dimulai sejak awal Covid-19 mewabah pada bulan Februari yang lalu,” kata Sugiri kepada afederasi.com, Sabtu (3/10/2020).

Sugiri mengungkapkan, sebelum Covid-19 menyerang setiap produksi kerupuk pasti akan habis terjual hari itu juga, tanpa sisa. Namun saat ini, setiap ia memproduksi 300 karung kerupuk mentah, pasti menyisakan 100 karung.

“Jadi setiap bulan akan tersisa 100 karung kerupuk,” katanya.

Dengan kondisi seperti ini lanjut Sugiri, ia mengaku mengalami penurunan omset. Menurutnya, ketika hari normal dia bisa mendapatkan sekitar Rp 350 juta sampai 400 juta per bulan. Namun selama pandemi ini omset per bulan berkisar hanya Rp 200 juta hingga Rp 250 juta.

“Ya lumayan dratis turunnya,” keluhnya.

Menurut Sugiri, faktor utama menurunnya omzet penjualan ini disebabkan karena beberapa rumah makan menutup usahanya selama pandemi Covid-19. Otomatis, pesanan kerupuk menurun. Padahal dihari biasanya kerupuk produksi rumahan ini bisa setor keempat kabupaten yakni Tulungagung, Kediri, Blitar, dan Trenggalek.

Baca Juga  Petakan Kerawanan Pilkada 2020, TNI/Polri dan Forkopimda Gelar FGD

“Bahkan di bulan Juni-Agustus penurunan mencapai 50 persen,” jelasnya.

Untuk meminimalisir kerugian, Sugiri mengaku harus memangkas karyawannya. Langkah ini diambil agar produksinya bisa terus berjalan.

“Dari 25 karyawan, selama pandemi ini saya hanya gunakan 20 orang saja,” katanya.

Sugiri yang sudah membuka usaha produksi kerupuk dari tahun 1995 silam, kini hanya berharap agar pandemi segera berlalu dan warung segera buka sehingga pemasaran kerupuk segera stabil.

“Semoga kedepan pandemi Covid-19 segera mereda,” ucap pria asal Ciamis tersebut. (is/yp)

News Feed