Minggu, 31 Oktober 2021, 18:36 WIB

Dampak Pandemi Omset Turun Hingga 90 Persen, Pengusaha Rambak Kini Mulai Bangkit

Tulungagung, (afederasi.com) – Pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi omset dagang suatu perusahaan. Salah satu pengusaha rambak di Tulungagung sempat mengalami penurunan omset hingga 90 persen.

Hal ini disebabkan karena seluruh tempat wisata dan pusat kuliner ataupun oleh- oleh pada awal- awal pandemi ditutup. Namun, dengan melandainya kasus Covid-19 saat ini pengusaha rambak mulai bergerilya untuk pulih.

Salah satu pengusaha rambak asal Kelurahan Sembung Kecamatan Tulungagung, Sudjarwa mengatakan di awal pandemi pihaknya mengalami penurunan omset 70 hingga 90 persen. Namun saat ini bisa pulih kembali, sebab penerapan PPKM sudah mulai dilonggarkan oleh pemerintah.

“Alhamdulillah pengiriman rambak sudah mulai lancar kembali,” jelasnya.

Djarwo sapaan akrab dari Sudjarwa melanjutkan meskipun belum seluruhnya pengiriman keluar Jawa lancar, namun pihaknya tetap bersyukur usahanya bisa mulai berjalan normal.

“Sampai saat ini reseller kami dari Kalimantan belum meminta kiriman kembali. Padahal dulu sebelum adanya pandemi dua minggu sekali sudah pasti meminta kiriman setengah kwintal (kw) rambak mentah,” terangnya.

Menurut Djarwo disaat omset sudah berangsur normal, kendala yang saat ini menjadi keluhan Djarwo yaitu tidak menentunya cuaca di setiap harinya.

Sebab, dalam proses pengeringan kulit yang dijadikan rambak sangat bergantung dengan sinar matahari yang sangat terik. Sementara saat ini curah hujan tidak bisa diprediksi.

“Kita selalu berburu sinar matahari, kalau panas kita jemur, kalau hujan kita angkat kembali. Kulit rambak tidak bisa terkena air hujan karena bisa mempengaruhi proses selanjutnya,” ujarnya.

Apabila dalam pengeringan kulit rambak tidak kering secara sempurna, maka bisa berpengaruh terhadap rasa dan tidak berkembangnya kerupuk saat proses penggorengan.

“Bisa menimbulkan rasa pahit ketika dimakan, selain itu apabila tidak kering sempurna bisa menambah cost,” imbuhnya.

Masih menurut pria yang juga menjadi Kepala ruang instalasi radiologi di RSUD dr Iskak, dalam setiap hari pihaknya mampu memproduksi satu kulit rambak seberat 45 hingga 50 kilogram (kg). Produksi perhari tergantung stok kulit yang didapatkannya dari para jagal sapi.

“Kami ambil kulitnya dari jagal di daerah Tulungagung, Kediri, dan Blitar,” paparnya.

Lanjut Djarwo, rambak buatannya dipatok dari harga Rp120 ribu per kg nya untuk rambak sapi, dan Rp160 ribu per kg untuk rambak kerbau.

“Meskipun rambak kerbau lebih mahal, namun peminatnya lebih banyak rambak kerbau ini. Sebab dari rasanya lebih enak dan gurih,” tandasnya. (er/dn)

News Feed