oleh

Bisnis Pengepul Rongsokan Kian Menjanjikan di Tengah Pandemi

Tulungagung, (afederasi.com) – Tidak semua sektor usaha melemah akibat pandemi Covid-19. Ternyata masih ada beberapa sektor ekonomi yang mengalami peningkatan seperti halnya bisnis pengepul barang rongsokan.

Seperti halnya yang dialami Yuli (48), pengepul rongsokan atau barang bekas di Kelurahan Kepatihan Kecamatan Tulungagung ini. Pria yang memulai bisnis sejak Tahun 2006 ini mengaku sejak pandemi mewabah diawal Tahun 2020, justru omzet usahanya mengalami peningkatan mencapai 20 persen. Tentu saja, meningkatnya omzet ini sebanding dengan peningkatan pundi-pundi uang yang masuk ke kantongnya.

“Alhmadulilah sejak pertengahan tahun lalu, hingga saat ini ada peningkatan omzet antara 20-25 persen,” katanya.

Yuli melanjutkan, adapun jenis barang bekas yang ia kelola mencakup semua item seperti kardus, kaca, besi, alumunium, dan botol bekas. Barang-barang bekas itu diperoleh dari pabrik, dan terkadang dari perumahan.

“Kami tidak punya pekerja, terkadang orang datang kesini untuk menjual rongsokan,” katanya.

Yuli menjelaskan, barang-barang bekas yang ia terima itu kemudian dipilah sesuai jenisnya. Selanjutnya, barang-barang dijual lagi kepada pengepul yang lebih besar.

Baca Juga  Penjualan Turun 80 Persen, Pengusaha batik Pilih Bertahan

“Jadi rongsokan yang kami kelola ini untuk di daur ulang,” terangnya.

Masih menurut Yuli, untuk barang jenis logam akan dijual ke pendaur ulang logam. Demikian halnya untuk barang bekas jenis  kardus, botol bekas, ataupun plastik.

“Untuk harga perkilo nya juga bermacam-macam, tergantung jenisnya. Yang jelas kenaikannya antara 20-25 persen,” bebernya.

Pengambilannya terkadang 2-5 kali dalam seminggu. Sebelum pandemi, omzet sekali barang diambil sekitar Rp 1,5 juta. Namun sejak pertengahan Tahun 2020, omzet per hari menjadi diatas Rp 2 juta.

“Kami juga tidak tahu apa penyebabnya. Yang jelas permintaan rongsokan meningkat dan barang yang masuk ke kami juga banyak,” jelasnya.

Yuli menambahkan, dalam menerima setiap barang bekas dari warga, ia juga memastikan asal-usul barangnya. Artinya jika kondisinya masih bagus dan berfungsi, tentu patut dipertanyakan kenapa harus dijual.

“Untuk jaga-jaga saja mas, takutnya ada apa-apa dikemudian hari,” katanya.

Yuli meyakini, profesinya ini dapat mereduksi pengurangan sampah khususnya di Tulungagung. Menurutnya jika dikelola dengan baik, barang bekas tidak akan lagi terkesan kotor dan jorok.

Baca Juga  Jelang Nataru, Tim Gabungan Pantau Harga Sembako

“Pengepulan disini tidak ada bau, karena barang-barang bukan diambil dari tempat sampah,” tukasnya.  (riz/yp)

News Feed