oleh

Berguru dari Youtube, Pria di Tulungagung Raup Puluhan Juta dari Bonsai

Tulungagung, (afederasi.com) – Berawal dari rasa penasarannya terhadap tanaman bonsai, Sugeng Subandi (46) warga Desa Salak kembang kecamatan Kalidawir mulai menggali informasi seputar bonsai di youtube.

Tak sekedar melihat, pria yang berprofesi sebagai guru tersebut juga mulai mempraktikkannya. Kini, berbagai tanaman bonsai tak sekedar menghiasai rumahnya namun juga menghiasi dompetnya karena telah menghasilkan puluhan juta rupiah.

Sugeng mengatakan, kecintaanya terhadap tanaman bonsai dimulai pada Tahun 2016 silam. Namun ketika itu, ia baru memulainya dengan tanaman kamboja. Sedangkan cara perawatannya, ia belajar dari youtube.

“Awalnya saya merawat bunga kamboja, lalu perlahan mulai beralih ke bonsai, dan teknis perawatan belajar dari youtube,” imbuhnya.

Sugeng melanjutkan, selama 2 tahun menggali informasi di youtub sekaligus mempraktekkannya, pada Tahun 2018 koleksi tanaman bonsainya juga sudah banyak.

“Satu persatu tanaman bonsai saya mulai dilirik orang,” katanya.

Sugeng menjelaskan, setiap bonsai itu memiliki karakter yang berbeda, pembudidaya juga harus mengenali karakter masing-masing pohonnya.

“Yang familiar disini seperti serut, asem, jeruk kingking, dan pohon beringin ringin. Dari pohon ini kita bisa belajar mengenali karakter pohon, kekuatan akar, liuk ranting dan keindahan saat dilihat dari berbagai sisi,” jelasnya.

Sedangkan di Indonesia sendiri ada jenis bonsai yang menjadi ciri khas, yaitu pohon beringin apak. Kemudian yang dari luar negeri ada  dolar Korea, dolar Philipne, dan sebagainya.

“Untuk jenis Santigi dan Bugenvil yang sudah bagus, dari segi umur akar nya ranting dan bentuk yang profesional bisa mencapai harga diatas Rp 100 juta,” imbuhnya.

Masih menurut Sugeng, untuk pencarian bahannya ia mendapatkannya bisa dari pinggir jalan, hutan, pegunungan, hingga daerah pinggir pantai.

Dalam pembuatan bonsai lanjut Sugeng, dirinya sudah menggunakan motode baru, yaitu memakai kawat khusus bonsai, selain bisa mempermudah juga mempercepat dalam penjadian bonsai dari pada model lama yang menggunakan metode cutting.

“Terkait pengawatan kita ada 3 tahap, tahap pertama cabang diarahkan, kedua ranting diarahkan, ketiga anak ranting diarahkan, apabila sudah sampai ketiga tahap ini bonsai sudah lumayan kelihatan bagus, meskipun belum sepenuhnya jadi,” jelasnya.

Masih menurut Sugeng, untuk media tanaman ia menggunakan sekam, tanah, dan kotoran kambing. Kemudian untuk pupuk memakai dekastar, dengan harga kisaran Rp150 ribu perkilonya.

“Proses pengambilan bahan bonsai juga diperhatikan, salah satunya jenis Kelampis yang hanya diambil ketika musim kemarau saja,” bebernya.

Disingung bagaimana cara memasarkan bonsai-bonsai miliknya itu, Sugeng memanfaatkan media sosial. Selain itu, untuk menarik minat pembeli dirinya memajang bonsai di depan rumah.

“Ya itu caranya, siapa tahu ada yang berminat. Selama ini saya sudah menjual ke berbagai kalangan termasuk rekan TNI/Polri, pegawai bank, hingga dokter,” katanya.

Sugeng menambahkan, untuk harga relatif tergantung jenis dan  keindahan bonsai. Namun untuk bonsai setengah jadi harganya dikisaran Rp 100 ribu-Rp 150 ribu, hingga jutaan.

“Untuk menentukan harga tidak ada patokan, tapi dengan harga yang terukur, karena ini barang penghobi kalau orang itu tau dan suka walaupun harganya mahal pasti dibeli, meskipun kelihatannya barang kecil dengan harga yang seperti itu tidak masuk akal,” ungkapnya.

Adapun cara pendistribusian bonsai, untuk bonsai yang berukuran kecil kita bisa dengan cara cash on delivery (COD), sedangkan untuk yang besar kita kirimkan menggunakan mobil yang tentunya kita kirim diberbagai kota.

Sugeng mengungkapkan, selama pendemi ini ia mengaku sudah mendapatkan pemasukan hingga Rp 50 juta. Namun ia juga berpesan kepada warga bagi yang ingin memulai bisnis bonsai, dirinya berpesan harus memiliki pekerjaan yang utama. Sedangkan merawat bonsai, jadikanlah hobi.

“Bonsai tidak bisa dijadikan pekerjaan utama, harus ada pekerjaan yang menghasilkan untuk keperluan sehari-hari. Intinya, harus suka dulu, seiring berjalannya waktu, pasti ada celah untuk mengetahui bonsai dan penjualannya,” tukasnya. (riz/yp)

News Feed