oleh

Waspada, Kejahatan Cyber di Kota Marmer Kian Meningkat

Tulungagung, (afederasi.com) – Berkembangnya teknologi informasi tak hanya bermanfaat kepada manusia. Namun, memiliki sisi negatif yang kerap disalahgunakan oleh seseorang untuk memperdaya korbannya.

Seperti halnya di wilyah hukum Polres Tulungagung, dalam dua tahun terakhir jumlah korban kejahatan cyber mengalami peningkatan yang tajam, bahkan jumlahnya mencapai ratusan. Ironisnya, jumlah aduan kasus tersebut tidak sebanding dengan keberhasilan pengungkapan kasusnya.

“Siapapun yang berada di dunia media sosial dapat menjadi korban kriminalisasi,” kata Kapala Unit (Kanit) Pidana Khusus (Pidsus) Polres Tulungagung Iptu Didik Riyanto ketika menjadi narasumber dalam acara sarasehan bersama admin media sosial dengan tema ‘Bermedia Sosial Tanpa Melanggar UU ITE’ di kantor media cyber afederasi.com pada Sabtu (8/8/2020).

Didik mengungkapkan, kejahatan melalui media sosial ini memiliki modus yang beragam. Namun yang paling mendominasi, adalah kasus penipuan.

“Mayoritas penipuan dengan modus jual beli, pemberian hadiah hingga asmara,” katanya.

Didik melanjutkan, untuk kasus jual beli online, rata-rata korbannya adalah mereka yang sudah mentransfer uang, namun oleh pelapak barang dagangan tidak dikirim. Saat dilacak melalui nomor telepon atau akun medsos, sudah tidak lagi terhubung.

Baca Juga  Jalani Pengobatan, Belasan ODGJ Dikirim ke RSJ

“Sama halnya dengan kasus asmara, rata-rata korbannya adalah wanita,” imbuhnya.

Didik mencontohkan, untuk kasus penipuan bermodus asmara, rata-rata pelakunya mengaku sebagai anggota TNI/Polri, ASN, atau pebisnis. Mereka terus memberikan perhatian kepada para korbannya yang berstatus single parent dan memiliki status ekonomi baik. Perlahan tapi pasti, pelaku akan menguras uang dengan berbagai alasan kepada korbannya yang sudah memiliki ikatan batin dengan pelaku.

“Para korban ini baru sadar setelah kehilangan uang hingga puluhan juta. Dan para pelaku ini memilih korbannya dengan mengamati status atau story di media sosalnya,” jelasnya.

Sedangkan untuk penipuan bermodus pemberian hadiah, para pelaku ini dalam sekali beraksi langsung menyasar ratusan calon korbannya. Yakni dengan mengirimkan pesan pemberitahuan jika korban telah memenangkan hadiah.

“Dari ratusan calon korban itu pasti ada satu atau dua orang yang terjaring. Mereka diminta untuk menuruti kemauan pelaku hingga mentransfer sejumlah uang ke rekening pelaku,” katanya.

Didik mengakui, kasus kejahatan cyber ini memiliki tingkat penyelesaian kasus cukup rendah namun kian meresahkan di masyarakat. Sebab, cara kerja pelaku ini dengan sistem jaringan. Dimana semua data yang ada fiktif, dan tidak riil, serta pelaku dari luar daerah.

Baca Juga  Melepas Rindu dengan Siswa, Ini yang Dilakukan Guru di SMPN 1 Kedungwaru

“Kami pernah menelusuri nomor rekening yang diduga pernah digunakan untuk kejahatan. Setelah ketemu, ternyata pemiliknya adalah seorang tambal ban,” ungkapnya.

Masih menurut Didik, menurut penuturan pemilik rekening tersebut, sekitar tiga bulan sebelumnya ia pernah didatangi oleh orang yang akan memberikan uang sebesar Rp 500 ribu asalkan mau membuka rekening tabungan.

“Karena mungkin si bapak ini kurang pemahaman, akhirnya mau juga, kan lumayan Rp 500 ribu,” ucapnya.

Didik menuturkan, dari sekian kasus yang pernah ditanganinya pihaknya bisa menarik kesimpulan bahwa hampir 90 persen korban ini memiliki wawasan yang sedikit. Sehingga mereka mudah terperdaya dengan janji-janji dan iming-iming pelakunya.

Didik menambahkan, untuk meminimalisir kejadian penipuan melalui media sosial, pihaknya menghimbau kepada masyarakata agar merubah pola pikir bermedsos dengan yang lebih dewasa. Jangan terlalu mudah percaya dengan janji-janji yang memberikan keuntungan yang tidak lazim.

“Bagi warga yang merasa dirugikan atau sekedar konsultasi, silahkan menghubungi kami. Karena itu sangat membantu dalam menekan jumlah korban kejahatan cyber,” pungkasnya. (yp)

News Feed