oleh

Tolak Pembangunan Klinik, Warga Mulyosari Mengadu ke Dewan

Surabaya, (afederasi.com) – Proses pembangunan klinik mata di kawasan Perumahan Mulyosari Mapan mendapat penolakan dari warga sekitar. Pasalnya, pembangunan klinik tersebut dibangun dikawasan cluster perumahan, bukan cluster komersil.

Perwakilan warga RT 04 Mulyosari Tantra Lingga menjelaskan, pihaknya sudah mengajukan keberatan sejak dibangun dari tahun lalu, dan telah mencoba mengadu ke beberapa dinas terkait.

“Tapi dinas terkait mengatakan jika Situasi Keterangan Rencana Kota (SKRK) sudah keluar,” katanya.

Artinya lanjut Tantra Lingga, otomatis SKRK tersebut menjadi acuan, dan dinas terkait pasti mengikuti aturan karena sudah keluar SKRK.

Tantra mengatakan, hal yang dikhawatirkan dari pembangunan klinik tersebut adalah dampak yang ditimbulkan seperti warga luar yang sakit, lalu lahan parkir, dan kondisi lalu lintas.

“Yang paling tidak menyenangkan buat masyrakat itu akan memberikan efek sakit penyakit, lalu limbahnya bagaimana plus ditambah jumlah bangunan yang mereka ambil itu mereka pakai semua. Tidak ada ruang untuk yang dikatakan oleh dinas cipta karya seprti ruang terbuka hijau sama sekali tidak ada nempel tembok dengan tembok,” ujarnya.

Baca Juga  Ratusan Massa Getol Geruduk Kantor Gubernur Jatim

Ia menjelaskan, apabila warganya hanya meminta untuk dikembalikan fungsinya sebagai perumahan. Pasalnya, di depan perumahan warga terdapat ruko yang dapat dijadikan komersil.

“Posisinya komplek perumahan kami merupakan komplek bervariasi, tapi kami lebih cari rumah sakit, karena lokasi perumahan sudah punya prevensi untuk langsung ke rumah sakit,” kata Tantra.

Sementara itu Ketua Komisi C Baktiono mengatakan, warga perumahan komplek central pegensi menolak berdirinya klinik dalam klaster perumahan. Baktiono menjelaskan ada beberapa point yang menjadi protes warga antara lain terdapat supermarket. Ini dinilai dapat menganggu aktivitas warga, karena warga ingin mendapat ketenangan tidak terganggung aktifitas apapun.

“Di samping itu, klinik tersebut dibangun dengan lantai 3 dengan menghabiskan semua lahannya. Kemudian, area parkir tidak tersedia. Padahal dalam Amdal lalin, itu harus tersedia minimal tempat atau area untuk parkir pasien yang berobat di sana,” papar Baktiono.

Untuk sementara Baktiono merekomendasikan untuk pemberhentian terlebih dahulu proses pembangunan. Untuk selanjutnya akan diundang kembali dari pihak klinik untuk menemukan solusi, dan yang sudah mengantoni izin tidak dirugikan dan kalau terjadi itu warga bisa menerima manfaat.

Baca Juga  Tidak Sekedar Hobi, Manjakan Pecinta Bonsai dengan Pameran

“Pemberhentiannya masih belum tau, nanti kita undang kembali. Rencananya minggu depan. Kalau dijadikan perumahan warga tidak keberatan,” tutup Baktiono. (dwd/yp)

News Feed