oleh

Satpol PP : Temukan Anak Dibawah Umur, Sebagai Pelayan Warkop-Karaoke

Petugas Satpol PP saat mengamankan DR, pemandu lagu warkop dan karaoke yang masih dibawah umur

Tulungagung, (Afederasi.com) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur telah menemukan adanya anak di bawah umur yang dipekerjakan di salah satu warung kopi (warkop) dan karaoke Idaman Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, seusai dilakukannya inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah warkop, Senin (09/09/2019).

Diidentifikasi gadi tersebut berinisal DR (17) asal Kecamatan Poncokusumo , Kabupaten Malang.  Dia bekerja sebagai pemandu lagu (PL) di salah satu warkop di Desa Junjung milik Markini warga setempat.

“Kita temukan salah satu PL dibawah umur yang berinisial DR. Kemudian kita bawa ke kantor. Sedangkan pengelola kafe yakni Markini kami minta mendatangi kantor,” tegas Kasatpol PP Johanes Bagus Kuncoro melalui Kasi Informasi dan Publikasi Anindya Putra, Senin (09/09/2019).

Anindya menuturkan pihaknya mendapatkan informasi adanya pengerjaan anak dibawah umur sebagai PL bermula dari media sosial. Dengan berbekal informasi itulah, pihak Satpol PP langsung melakukan pengecekan di lokasi.

Baca Juga  Ternyata Senjata Ini Yang Digunakan Oleh Anggota Resmob Polres Tulungagung Untuk Latihan

Awalnya, DR mengaku sudah berumur 19 tahun. Namun, ketika diminta identitasnya (KTP), dia belum memilikinya. “Dari hasil pemeriksaan sementara, ternyata DR lahir di bulan April 2002. Jadi belum genap 18 tahun,” katanya.

Masih menurut Anindya, seusai dilakukannya pemeriksaan terhadap DR, diserahkan ke ULT PSAI. Karena ULT PSAI belum memiliki shelter, maka untuk sementara waktu DR dikirim ke Dinsos KB-PPA.

“Kasihan sebenarnya anak ini, dia adalah korban. Bahkan ia mengaku sempat dipaksa melayani tamu untuk melakukan hubungan layaknya suami istri pada pertengahan Agustus yang lalu,” terangnya.

Dari hasil temuan ini, pihaknya juga akan memanggil Markini selaku pengelola warkop dan karaoke tersebut. Pasalnya selain memperkerjakan anak dibawah umur, ternyata Markini tidak bisa menunjukkan surat ijin usahanya.

“Kita akan layangkan surat peringatan, selain itu yang bersangkutan juga harus menjelaskan bagaimana bisa memperkerjakan anak dibawah umur dan belum berijin,” pungkasnya.

Sementara itu, DR mengaku baru bekerja sekitar satu bulan di warkop dan karaoke tersebut. Menurutnya, awalnya ia diajak oleh temannya yang juga pernah bekerja di lokasi. “Saya sebulan mendapatkan gaji sekitar Rp 1 juta,” katanya.

Baca Juga  Berboncengan, Dandim-Kapolres Tinjau Kesiapan Pengamanan Nataru

DR juga mengaku, pada pertengahan Agustus yang lalu tepatnya diwaktu dini hari, ia dipaksa untuk melayani hubungan layaknya suami istri oleh salah satu pengunjung. Karena takut, akhirnya ia pun merelekannya. “Waktu itu saya dikasih uang Rp 300 ribu,” jelasnya.

Terpisah, Markini mengaku jika warkop dan karaoke tersebut sudah berdiri lama. Meski belum mengurus perijinan, namun ia mengaku memiliki sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atas lagu-lagu yang disediakannya. “Saat itu saya harus mengeluarkan biaya Rp 800 ribu untuk pengurusannya,” tambahnya. (ra/an)

vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed