oleh

Risma Klaim Surabaya Zona Hijau, Namun di Peta Jawa Timur Masih Zona Merah

Surabaya, (afederasi.com) – Klaim Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini soal wilayahnya telah menjadi zona hijau penularan virus corona (Covid-19), rupanya berbanding terbalik dengan data yang dipegang oleh Pemprov Jawa Timur.

Berdasarkan data Pemprov Jatim, dimana Kota Surabaya masih termasuk zona merah dengan risiko tinggi.

Sebelumnya, Risma mengklaim Surabaya telah menjadi zona hijau virus corona (Covid-19). Klaim tersebut didasarkan pada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Risma menyebut tingkat penularan Covid-19 di Surabaya sudah menurun dengan kesembuhan yang kian meningkat.

“Di mana kondisi Surabaya sudah zona hijau yang artinya penularannya kita sudah rendah. Lalu yang sembuh sudah banyak,” ucap Risma seperti yang tertulis di siaran pers, Senin (3/8/2020).

Namun, bila melihat peta resmi Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim diakses Senin (3/8/2020) pukul 14.26 WIB, di infocovid19.jatimprov.go.id, Kota Surabaya masih menjadi zona merah penyebaran corona.

Pemprov Jatim mencatat ada 8.756 kasus positif di Kota Surabaya dan 2.219 suspek hingga 3 Agustus. Dengan rincian sebanyak 5.381 pasien dirawat, 2.599 pasien sembuh dan 776 meninggal dunia.

Baca Juga  Pasien Sembuh dari Covid-19 Terus Bertambah, Kini total Ada 27 orang

Kemudian dalam peta, Kota Surabaya tampak berwarna merah dengan tingkat risiko tinggi. Seperti halnya dengan Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang Gresik, Kota Malang, Kota Batu dan Kota Mojokerto.

Data milik pemerintah pusat juga berkata demikian. Seperti terlihat pada situs covid19.go.id, Surabaya termasuk wilayah zona merah penularan virus corona.

Anggota Rumpun Kuratif Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, Jibril Makhyan Al Farabi mengatakan penentuan zona merah dalam peta Gugus Jatim itu harus mengikuti peta risiko yang dipublikasikan oleh Satgas Penanganan Covid-19 Nasional.

“Penentuan zona merah kuning hijau ini kan kewenangan dari Satuan Gugus Tugas Pusat. Penilaian ini juga bisa diakses di covid19.go.id/peta-risiko yang menunjukkan warna zona tiap kabupaten dan kota,” kata Jibril.

Jibril menjelaskan, setidaknya harus ada sejumlah indikator yang menjadi faktor penilaian status zona di sejumlah daerah. Di antaranya indikator epidemiologi, indikator surveilans dan indikator kesehatan masyarakat. Berikut detailnya.

1. Penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

Baca Juga  Empat Orang Dilaporkan Sembuh dari Covid-19, Satu Merupakan Anak

2. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

3. Penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

4. Penurunan jumlah meninggal dari kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

6. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

7. Kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif selama 2 minggu terakhir

8. Kenaikan jumlah selesai pemantauan & pengawasan dari ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir.

9. Penurunan laju insidensi kasus positif per 100,000 penduduk

10 .Penurunan angka kematian per 100,000 penduduk

11.Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama 2 minggu

12. Positivity rate <5% (dari seluruh sampel yang diperiksa, proporsi positif hanya 5%)

13. Jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah pasien positif COVID-19

Baca Juga  Bertambah Lagi Lima Pasien Sembuh, Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Kota Marmer Capai 50 Persen

14. Jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah ODP, PDP, dan pasien positif COVID-19

15. Rt – Angka reproduksi efektif

Di lihat dari sejumlah indikator tersebut, Jibril mengatakan bahwa jumlah kasus baru di Surabaya memang mulai menurun. Tingkat kesembuhan juga meningkat. Kendati demikian, masyarakat Surabaya harus tetap waspada dan meningkatkan protokol kesehatan.

“Pada dasarnya memang kesembuhan di Surabaya meningkat dan kasus baru mulai menurun. Artinya tetap harus waspada dan tidak boleh lengah untuk menerapkan protokol kesehatan,” pungkas Jibril. (dwd/an)

News Feed