oleh

Puluhan Mahasiswa Kota Marmer Berteriak, Tolak Penambangan Pasir Ilegal di Sungai Brantas

Tulungagung, (afederasi.com) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Arus Bawah Tulungagung menggelar aksi unjuk rasa (unras) pada Senin (27/7/2020) siang.

Kegiatan yang diawali dengan aksi longmarch menuju Mapolres, kantor Pemkab, dan Gedung DPRD Tulungagung ini untuk menyerukan penolakan terhadap kegiatan penambangan pasir ilegal di sepanjang bantaran Sungai Brantas.

Berdasarkan pantauan afederasi.com, unras yang digawangi Wicaksono dan Bagus Taufik Akbar ini diikuti sekitar 30 mahasiswa yang tergabung dari berbagai Perguruan Tinggi. Mereka berjalan kaki sejauh kurang lebih 2 kilometer dari Jalan Letjen Suprapto menuju Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan RA Kartini.

Meskipun mendapat pengawalan yang ketat dari anggota Polres Tulungagung, selama di perjalanan mereka secara lantang menyerukan tiga tuntutan terkait penolakan penambangan pasir ilegal. Yakni, penuntasan kerusakan lingkungan, penghentian intimidasi kepada akivis lingkungan dan mahasiswa, serta tindak tegas mafia tambang pasir.

Dengan berbekal satu unit mobil pick up yang berisi seperangkat pengeras suara, mereka juga terlihat membawa spanduk warna putih yang bertuliskan ‘Alamku Rusak’.

Baca Juga  Diduga Konsleting, Sebuah Rumah di Rejosari Ludes Terbakar

Saat berada di depan Mapolres Tulungagung, mereka secara bergantian melakukan orasi sekitar 20 menit. Selanjutnya aksi ditutup dengan peletakan pohon pisang di depan Mapolres.

Kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke depan halaman Pemkab dan terakhir di depan Gedung DPRD Tulungagung.

Salah satu peserta unras saat meletakkan pohon pisang di depan Mapolres Tulungagung (Foto : Yoppy/afederasi.com)

Menariknya, di Gedung Wakil Rakyat ini mereka meluapkan ekspresi kekecewaannya dengan melempar beberapa butir telur ke halaman parkir Gedung DPRD Tulungagung.

“Aksi ini sebagai buntut kekecewaan kami karena pemerintah dan aparat tidak merespon permintaan kami tentang penghentian penambangan pasir ilegal di bantaran Sungai Brantas,” tegas Wicaksono.

Pria yang akrab disapa Wicak tersebut menjelaskan, akibat penambangan pasir ilegal yang dilakukan secara terus-menerus ini berdampak pada rusaknya lingkungan di daerah sekitar bantaran Sungai Brantas. Bahkan, beberapa ada rumah warga yang roboh karena longsor.

“Selain itu sumber air juga semakin dalam, warga sangat resah,” ujarnya.

Wicak melihat, sejauh ini baik aparat maupun pemerintah belum melakukan aksi kongkrit penghentian aktivitas penambangan ilegal tersebut. Selain itu, stake holder terkait juga belum melakukan perbaikan kerusakan alam akibat penambangan pasir ini.

Baca Juga  Dihantam Ombak, Seorang Nelayan Tewas, Satu Belum Ditemukan

“Jadi aksi ini adalah bentuk kemarahan kami, saat dikonfirmasi mereka malah saling lempar tanggung jawab,” terangnya.

Wicak melanjutkan, jika tiga tuntutan yang ia bawa hari ini yakni penuntasan kerusakan lingkungan, penghentian intimidasi kepada akivis lingkungan dan mahasiswa, serta tindak tegas mafia tambang pasir tidak kunjung direspon, pihaknya tak segan-segan akan melakukan aksi serupa dengan jumlah massa yang lebih besar.

“Kami mewakili arus bawah masyarakat Tulungagung, kami akan terus mengawal tuntutan kami,” tegasnya. (yp)

News Feed