oleh

Polusi Debu Pabrik Kreser Resahkan Warga, DLH Bakal Ambil Tindakan

Nganjuk, (afederasi.com) – Warga disekitar pabrik pemecah batu (kraser) yang terletak di Jalan Raya Nganjuk-Madiun Desa Bagorkulon, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur resah. Keresahan tersebut dipicu polusi debu yang diduga kuat dari pabrik tersebut.

Salah satu warga, Sumaji (44) setempat mengatakan selama pembangunan dan beroperasinya pabrik menimbulkan debu. Bahkan debu tersebut masuk ke rumah-rumah. Rumah dia hanya berjarak 75 meter dari pabrik.

“Debu yang masuk rumah dan warung kami cukup tebal, bahkan kamar anak kami yang berada di lantai atas sudah tidak digunakan lagi. Karena saat pabrik kraser produksi tempat itulah yang terparah kena polusi debunya, sehingga kami sering kelilipan saat berada di kamar atas,” jelas Sumaji.

Masih lanjut Sumaji, sebelum pabrik kraser dibangun, dirinya hanya diberitahu kalau tempat itu akan dibangun perumahan, tapi. Menurut informasi dari pemerintah desa sekitar 4 silam. Tempat tersebut tersebut akan dibangun pabrik triplek. Kenyataannya kedua informasi tersebut tidak ada yang benar.

“Kami, warga sekitar pabrik kraser tidak pernah dimintai persetujuan atas pembangunan pabrik kraser. Dan atas berdirinya pabrik kraser, kami merasa dirugikan atas polusi debu yang ditimbulkannya, bahkan kami para warga sekitar pabrik harus menghirup udara bercampur debu yang bisa berdampak pada kesehatan kami,” tambah Sumaji kepada afederasi.com dirumahnya.

Baca Juga  Wakil Ketua DPRD: Masuk Kota Kripik Tak Harus Rapid Test

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nganjuk, Tri Wahyu Kuntjoro mengatakan, pihaknya mengetahui hal tersebut setahun yang lalu, tepatnya pada 31 Oktober 2019 saat warga sekitar pabrik kraser melaporkan hal tersebut. Dan waktu itu juga oleh pihaknya telah ditindaklanjuti.

Untuk kali ini, pihaknya mengetahui pabrik kraser itu masih menimbulkan polusi debu yang katanya merugikan warga sekitar, dari media sosial (medsos). Lantas pada  (07/09/2020) siang, pihaknya bersama Satpol PP Kabupaten Nganjuk, langsung melakukan pengecekan, yang hasilnya, polusi debu yang dimbulkannya, lebih parah dari tahun kemaren, saat warga melaporkan pebrik tersebut.

“Dengan disaksikan Satpol PP, pihak perusahaan telah membuat perjanjian yang intinya akan mematuhi semua aturan yang berlaku. Seperti memasang jaring diatas tembok pagar dan uji laboratorium atas dampak yang timbulkannya,” kata Tri Wahyu Kuntjoro.

Tapi apabila pihak perusahaan tidak melakukan hal sebagaimana aturan, Dinas Lingkungan Hidup Nganjuk, akan memberikan sanksi, mulai dari yang paling ringan yaitu teguran sampai yang paling berat yaitu pencabutan ijin atau pemberhentian kegiatan. “Kami akan terus memantau perusahaan itu sampai benar-benar tidak menimbulkan polusi dan berdampak pada warga,” pungkas Tri Wahyu Kuntjoro pada media ini, 10/09/2020. (Ind/am)

News Feed