oleh

Petani Jagung Keluhkan Serangan Ulat Tentara

Tulungagung, (afederasi.com) – Sejumlah petani jagung di Kabupaten Tulungagung kembali mengeluhkan adanya serangan ulat tentara atau lebih dikenal dengan ulat grayak. Pasalnya, serangan ulat tentara secara sporadis itu, dapat menyebabkan terjadinya gagal panen jika tidak segera ditangani.

Toro salah satu petani di Desa Tugu, Kecamatan Sendang mengungkapkan hama ulat grayak ini merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja.

“Pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung, itu terlihat adanya bekas gesekan dari larva atau ulat. Selain itu ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. Ulat grayak ini merusak bagian pucuk, daun muda, maka tanaman jagung dipastikan akan mati,” ungkapnya.

Menurut Toro, apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0,2 – 0,8 larva per tanaman. Hal itu mengakibatkan terjadinya pengurangan hasil produksi sebanyak sekitar 5 hingga 20 persen. 

Baca Juga  Khofifah Percepat Tanam Padi di Musim Kemarau, Antisipasi Terjadinya Krisis Pangan dampak Covid-19

“Serangan hama ulat ini jika tidak segera di tindak lanjuti, dapat mengganggu hasil produksi jagung nantinya. Saya sudah lakukan penyemprotan, namun 14 hari lagi ulat ada lagi,” ujarnya.

Dikonfirmasi secara terpisah Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Tulungagung, Gatot Rahayu mengatakan serangan hama ulat grayak ini sebenarnya sudah terjadi penurunan jika dibandingkan dengan saat awal tahun, serangan ulat yang memiliki nama latin Spidoptera frugiperda ini telah menurun hingga 95 persen. Hingga saat ini, dari data yang sudah masuk pada Dispertan setempat ulat tentara telah menyerang 1,45 hektar lahan jagung.

“Besaran yang diserang sudah menurun drastis, tidak seluas saat awal tahun 2020,” jelasnya.

Gatot melanjutkan, turunnya serangan ulat pada tanaman jagung dikarenakan memasuki musim kemarau sudah sedikit petani yang menanam jagung. Hanya beberapa wilayah yang memiliki sumber air banyak yang masih menanam jagung. Seperti Kecamatan Sendang, Karangrejo, dan Ngantru.

Tak hanya itu, pola pemupukan yang tidak berimbang juga mempengaruhi kondisi tanaman. Sehingga potensi serangan hama tetap ada. “Rata-rata wilayah ini memang sumber air nya masih banyak, sehingga ancaman serangan ulat masih bisa terjadi,” terangnya.

Baca Juga  Bersama Petani Dipertabun Kabupaten Kediri Kendalikan Hama Ulat Grayak

Untuk usia tanaman yang terserang, rata-rata masih berusia 40 hari. Sehingga kemungkinan untuk gagal tumbuh masih tetap ada. Hama yang berasal dari Amerika ini tergolong hama jenis baru, dan menyerang titik tumbuh pangkal bagian atas tanaman jagung. Kondisi ini ditandai dengan daun jagung yang terlihat hanya sebatas robek.

“Untuk itu kami gencarkan sosialisasi ke petani melalui petugas di lapangan, agar petani menanam jagung secara bersamaan. Ini untuk mengkondisikan ekosistem yang ada, sehingga serangan hama dapat diminimalisir,” pungkasnya. (dn) 

News Feed