oleh

Omzet Penjualan Bendera Agustusan Menurun Hingga 50 Persen, Begini Kata Pedagang

Tulungagung, (afederasi.com) – Riono (48) warga Kelurahan Bago Kecamatan Tulungagung hanya duduk berdiam di atas trotoar di depan kantor Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Tulungagung pada Selasa (4/8/2020).

Sesekali bapak tiga anak tersebut terlihat memandangi ornamen Agustusan seperti bendera merah putih dan berbagai jenis umbul-umbul yang sengaja dipasang olehnya di Jalan Panglima Sudirman itu tanpa semangat.

Kepada afederasi.com, Riono mengaku penghasilan dari penjualan ornamen Agustusan ini terus menurun tiap tahunnya. Bahkan ditahun ini, jumlah penurunan mencapai 50 persen.

“Tahun-tahun sebelumnya dalam sehari bisa menjual antara 10 sampai 20 bendera/umbul-umbul. Namun saat ini hanya bisa menjual empat sampai lima saja. Bahkan hari ini belum laku sama sekali,” kata Riono kepada afederasi.com.

Riono mengatakan, penurunan penjualan ini hampir terjadi disetiap tahunnya. Namun yang paling parah yakni di tahun 2020 ini. Dirinya memprediksi, hal ini disebabkan karena pada bulan Agustus ini tidak ada even perayaan Agustusan baik di lingkungan masyarakat, perkantoran, atau acara Agustusan yang lain.

Baca Juga  Menengok Pabrik Tangguh di Kota Marmer Cegah Penyebaran Covid-19

“Ya mungkin saja mereka masih memakai bendera yang lama karena belum rusak, tapi saya yakin itu kecil pengaruhnya,” katanya.

Selain itu lanjut Riono, di bulan Agustus ini hanya sedikit pemerintah desa/kelurahan yang mengeluarkan himbauan untuk memasang ornamen Agustusan di wilayahnya. Sehingga, otomatis hal ini berdampak pada tidak ada warga yang memasang bendera di depan rumahnya.

“Sebenarnya harga bendera dan umbul-umbul ini juga tidak terlalu mahal dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan. Dengan uang Rp 30 ribu s/d Rp 50 ribu sudah dapat yang bagus,” katanya.

Riono juga mengaku untung yang ia peroleh dari penjualan bendera atau umbul-umbul ini hanya berkisar antara Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu saja.

Meski penghasilannya menurun tajam, ia akan tetap berjualan karena tidak ingin pelanggannya kecewa. Sebab, ia sudah bertahun-tahun berjualan di lokasi yang sama.

Iksan, pelajar kelas XI SMK di Tulungagung saat membantu orang tuanya berjualan bendera di depan Lapangan Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru (Foto : Yoppy/afederasi.com)

Senada dengan itu, Iksan (17) penjual bendera yang mangkal di depan lapangan Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru mengaku jika penjualan bendera yang dirintis orang tuanya ini juga mengalami penurunan. Jika ditahun-tahun sebelumnya dalam sehari bisa menjual antara 15 sampai dengan 20 bendera, pada tahun ini hanya sekitar 10 bendera saja.

Baca Juga  Waspada, Kejahatan Cyber di Kota Marmer Kian Meningkat

“Terkadang juga bisa kurang dari 10, tidak pasti mas,” katanya.

Iksan mengatakan, rata-rata pembeli bendera adalah warga biasa. Namun jika yang membeli dari instansi seperti TNI/Polri, ia langsung lebih dari dua bendera/umbul-umbul.

“Kisaran harga ya antara Rp 30 ribu sampai Rp 60 ribu,” jelasnya.

Namun demikian lanjut Iksan, ia tidak terlalu memikirkan penurunan omzet ini. Sebab, ia berjualan hanya untuk mengisi waktu libur sekolah saat pandemi Covid-19 ini.

“Biasanya yang jualan ayah saya, karena saat ini proses pembelajaran dilakukan di rumah, akhirnya saya yang jaga di sini,” kata pria yang masih berstatus pelajar kelas XI ini. (yp)

News Feed