oleh

Nyambi Edarkan Dobel L, Sopir Truk Dibekuk di Kamar Kos

Tulungagung, (afederasi.com) – Seorang sopir truk, SW (26) warga Desa Prambon Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek diamankan anggota Unit Reskrim Polsek Kedungwaru pada Rabu (8/9/2020) malam.

Bapak dua anak tersebut dibekuk di kamar kosnya masuk Kelurahan Kampungdalem Kecamatan Tulungagung lantaran diduga menjadi pengedar pil dobel L.

Dari peristiwa tersebut, polisi berhasil menyita barang bukti berupa 860 butir pil dobel L, sebuah ponsel merk Redmi Type 5A, uang tunai sebesar Rp 350 ribu, tiga buah kantong plastik klip, dan sebuah tas plastik warna hitam.

“Saat ini pelaku sudah diamankan di Mapolsek Kedungwaru,” kata Kapolsek Kedungwaru AKP Siswanto kepada afederasi.com, Rabu (9/9/2020).

Siswanto mengatakan, pelaku ini tertangkap berkat informasi yang diterima anggotanya. Bahwasannya, di daerah Kecamatan Kedungwaru diketahui ada peredaran pil dobel L. Saat dilakukan penyelidikan, ternyata bahan keterangan mengarah kepada SW.

“Saat kediaman SW diketahui, petugas yang berpakaian preman langsung mendatangi tempat kosnya di Kelurahan Kampungdalem,” katanya.

Awalnya lanjut Siswanto, SW tidak mengakui perbuatannya. Namun saat petugas melakukan penggeledahan di dalam kamar kosnya, ternyata ditemukan 860 butir pil dobel L yang ditempatkan di bawah kasur.

Baca Juga  Guru dan Staf Dinas Pendidikan 'Libur' Hingga 30 Maret

“Pil tersebut diwadahi plastik dan dibungkus tas kresek hitam,” terangnya.

Untuk keperluan pemeriksaan, SW langsung digelandang ke Mapolsek Kedungwaru berikut barang bukti.

Kepada petugas, SW ini mengaku mendapatkan barang haram tersebut dari seseorang yang berinisial G. Dimana, setiap 1000 butir pil dobel L dibeli seharga antara Rp 900 ribu sampai dengan Rp 1,1 juta. Kemudian pil dijual seharga Rp 50 ribu setiap 25 butirnya.

“Kepada G, SW ini transaksi dengan cara diranjau. Sedangkan dengan pelanggannya, langsung bertemu,” imbuhnya.

SW juga mengaku awalnya hanya mengkonsumsi pil dobel L untuk menambah stamina saat mengendarai truk. Alasannya, agar tidak mudah mengantuk. Namun, perlahan teman-temannya pesan kepada SW ini. Akhirnya SW tergiur untuk mengedarkan karena keuntungan yang tinggi.

“SW mengaku baru dua bulan berjualan pil dobel L, selama ini ia sudah membeli pil dari G sebanyak 6 kali,” ungkapnya.

Siswanto menambahkan, meski SW ini bukan residivis, namun petugas masih mengembangkan kasus tersebut, termasuk menelusuri keberadaan G.

“Atas perbuatannya, SW bakal dijerat dengan pasal pasal 197 sub pasal 198 jo pasal 98 (2) UURI no 36 Tahun 2009 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara,” tukasnya. (yp)

News Feed