oleh

Nelayan Keluhkan Maraknya Keramba Lobster di Pantai Popoh

Tulungagung, (afederasi.com) – Banyaknya jumlah keramba penangkapan benur lobster di pesisir Pantai Popoh Kecamatan Besuki dikeluhkan sejumlah nelayan. Selain menghambat jalur melaut, bertebarannya keramba ini berimbas pada jumlah tangkapan ikan yang menurun.

Salah satu nelayan di Pantai Popoh Bedung (43) mengatakan, banyaknya titik keramba penangkapan benur lobster yang tidak tertata membuat kerugian nelayan dari sektor hasil tangkapan. Selain itu, keberadaannya juga menghambat akses pulang-pergi melaut.

“Hasil tangkapan jelas menurun, belum lagi akses ke laut yang menghambat akibat keramba benur lobster yang bertebaran dimana-mana,” ungkapnya.

Bahkan lanjut Bedung, hasil tangkapan ikan menurun mencapai angka 80 persen. Tentu penurunan ini merupakan kalkulasi jumlah angka penurunan yang drastis, mengingat hasil tangkapan ikan di Pantai Popoh menjadi salah satu distributor ikan terbesar di Tulungagung.

“Penurunannya mencapai 80 persen, masih banyak hasil tangkapan pas musim sepi ikan dari pada ini,” paparnya

Masih menurut Bedung, maraknya penangkapan benur di Pantai Popoh membuat para nelayan tergiur untuk alih profesi. Menurutnya setidaknya hampir 50 persen nelayan menjadi penangkap benur lobster.

Baca Juga  Pemkab Siapkan Bansos Senilai Rp2 Miliar, Untuk Warga Terdampak Covid-19

“Mudahnya penangkapan benur dan tingginya harga jual, menjadi alasan para nelayan ikan mogok melaut,” terangnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Popoh Imam Subekti membenarkan jika penempatan keramba penangkapan benur lobster masih tersebar disembarang tempat.

Menurutnya, dari pihak UPT sendiri masih belum ada dasar untuk menentukan titik penempatan keramba.

“Yang jelas kami dari pihak UPT sendiri belum ada dasar untuk menentukan titik penempatan keramba,” jelasnya.

Imam melanjutkan, saat ini Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur sedang mengkaji mengenai peraturan yang akan dilaksanakan. Salah satunya yaitu peraturan terkait alat tangkap yang digunakan dan penempatan keramba penangkapan benur lobster.

Yang jelas, para penangkap benur lobster juga harus memikirkan kelestarian benur itu sendiri, dengan cara mengembalikkan hasil tangkapan benur kelaut sebesar 2 persen dari jumlah hasil tangkapannya.

“Peraturan untuk penangkapan benur sendiri masih dalam proses pengkajian dan akan diterapkan pada tahun 2021,” imbuhnya. (az/yp)

News Feed