oleh

Nekat Buka, Pengelola Warkop-Karaoke Bandel Disanksi

Tulungagung, (afederasi.com) – Sebanyak empat warung kopi (warkop)-karaoke yang berada di Kota Marmer terjaring razia Satpol PP pada Senin (31/8/2020) malam. Pasalnya, pengelola nekat beroperasi disaat penerapan Perbup Nomor 55 tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan sebagai upaya pengendalian Covid-19.

“Dari tujuh titik warkop-karaoke yang kita razia, empat diantaranya melakukan pelanggaran,” kata Kabid Penegakan Peraturan Daerah Satpol PP Tulungagung Artistya Nindya Putra.

Pria yang akrab disapa Genot tersebut mengungkapkan, razia ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari aduan masyarakat yang menginformasikan adanya warkop-karaoke yang tetap buka, sekaligus untuk mensosialisasikan Perbup 55/2020. Setelah dilakukan penyisiran, ternyata memang ada pengelola yang masih bandel.

“Modusnya pintu pagar tutup dan lampu mati, tetapi didalam ternyata beroperasi,” katanya.

Padahal lanjut Genot, sejauh ini belum ada pencabutan aturan mengenai penghentian operasional karaoke di Tulungagung. Bahkan, pelaksanaanya diperpanjang hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Aturannya belum dicabut, jadi masih berlaku,” ungkapnya.

Genot melanjutkan, bagi pengelola warkop-karaoke yang bandel tersebut pihaknya akan melayangkan Surat Peringatan (SP1). Namun jika mereka tetap nekat beroperasi, maka ancaman penutupan tempat usaha sudah disiapkan. Walaupun, mereka beralasan nekat beroperasi karena terlilit kebutuhan ekonomi.

Baca Juga  Tambang Pasir Ngunut-Rejotangan Sebabkan Kerusakan Lingkungan, DLH Kota Marmer Digugat Mahasiswa

“Tak hanya warkop-karaoke, kami juga temukan delapan warga kabupaten Blitar yang rela ke Tulungagung hanya untuk karaoke,” imbuhnya.

Genot menegaskan, bagi warga yang terjaring razia selama masa pandemi ini akan diberikan sanksi sosial yang berlaku. Selain itu, bagi yang berasal dari luar kota maka ia akan diminta untuk pulang.

Sementara itu, salah satu pengelola warkop-karaoke di Kecamatan Boyolangu Dayat mengaku baru seminggu membuka warkop-karaokenya. Pengakuannya, hal ini didasari karena untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

“Walaupun dibuka, tetapi animo masyarakat juga belum banyak,” katanya.

Dayat mengungkapkan, jika dihari-hari sebelum pandemi Covid-19, dirinya mengaku bisa meraup uang skitar Rp 300 ribu per hari. Namun saat ini, penghasilannya jauh dibawah itu. (yp)

News Feed