oleh

Mengintip Peternakan Burung Perkutut Milik Kades Kalirejo, Harga Bisa Tembus 190 Juta

Situbondo, (afederasi.com) – Suara merdu ribuan ekor perkutut langsung menyambut, setiap tamu yang datang ke rumah Susangka. Maklum pria yang juga Kepala Desa Kalirejo, Kecamatan Sumbermalang ini, merupakan peternak burung Perkutut, dan rumahnya tidak pernah sepi dari tamu.

“Silahkan mas silahkan masuk, monggo gabung ngobrol disini, ini mumpung ada tamu dari jauh yang mau melihat-lihat burung perkutut,” ujar Susangka, menyambut kedatangan afederasi.com.

Saat Itu pria 45 tahunan ini sedang kedatangan dua pembeli sekaligus, dari Situbondo dan Pulau Madura. Melihat cara bicaranya kepada calon pembeli, dirinya terlihat memang cukup lancar dan menguasai tentang ciri-ciri burung perkutut berkualitas.

Sesekali penjelasannya harus terhenti, lantaran mulutnya bersiul untuk memancing burung perkutut agar berbunyi. Mungkin cara itu dilakukan sebagai bentuk pembuktian kepada calon pembeli, bahwa suara perkutut peliharaannya memang memiliki suara yang tidak diragukan.

“Jadi perkutut berkualitas itu memang ada dibunyi, semakin berirama dan memiliki suara besar, serta berdurasi panjang itu adalah ciri perkutut yang bagus, lah seperti yang digantung itu pak, burung itu sudah siap tempur (mengikuti perlombaan),” ujar Susangka sembari menunjuk burung dagangannya kepada pembelinya.

Menyudahi perbincangan dengan pembeli itu, akhirnya mereka langsung memborong dua ekor burung, sekaligus sangkarnya. Sementara pembeli asal Madura, mengaku hanya membeli burung saja, karena sangkar dirumahnya memang masih tersisa satu.

“Saya ambil yang lima juta sama yang sepuluh juta ya pak, sekalian sangkarnya itu berapa totalnya. Nanti kalau cocok, saya pasti datang untuk membeli lagi,” ujar Agus Rejeki, salah satu pembeli asal Situbondo ini.

Baca Juga  Rela Tinggalkan Motor, Puluhan Orang Berhamburan saat Arena Sabung Ayam Digrebek Polisi

Menyudahi pertemuan itu, Agus mengaku rela merogoh kocek hingga Rp 15 juta untuk dua ekor burung, sementara dua sangkar berhasil dia bawa pulang dengan harga Rp 8 juta. Agus mengaku, jika dirinya sudah kesekian kalinya membeli burung perkutut, Made in Susangka ini.

“Kalau yang sekarang ini saya beli untuk saya hadiahkan kepada kolega saya, kebetuln beliau jgua memiliki kegemaran sama dengan saya,” tutupnya.

Usai melayani kedua pembelinya hingga mengantarnya ke halaman depan, Susangka kembali duduk, dan semakin detail menjelaskan perjalanan panjang peternakannya itu. Dirinya mengisahkan, jika awal sukses peternakan itu lantaran sang ayah yang mewarisi empat ekor perkutut kepadanya. Konon kala itu burung tersebut selalu jawara dalam setiap perlombaan.

“Sekitar tahun 90an saya diwarisi burung sama bapak, dari situ saya mulai gemar dan sering ikut lomba burung perkutut. Alhamdulilah juga sering juara, hingga akhirnya burung saya selalu diperhitungkan oleh lawan saya,” jelasnya.

Pria berperawakan sedang ini juga membeberkan, jika dari nama besarnya itulah kemudian muncul ide untuk beternak. Bak gayung bersambut, ide yang dimulai sejak tahun 2006an itu akhirnya bisa berkembang hingga saat ini.

Burung hasil ternakan Susangka ini juga memiliki merek dagang, yaitu Sakura. Jadi setiap burung yang berasal darinya pasti memiliki cincin khusus di kaki yang bertuliskan “Sakura”. “Cincinya ada cirikhasnya, jadi gak bisa dipalsu,” jelasnya.

Baca Juga  Dirikan Posko Covid-19 untuk Cek Perantau Pulang Kampung

Disindir masalah harga, Susangka mengaku tidak terlalu mematok harga, karena memng dirumhnya saat ini ada sekitar 1.400an ekor perkutut, dan itu memiliki harga mulai dari ratusan ribu rupiah. Meski dirinya nengaku, memang ada beberpa burung yang memiliki harga hingga ratuasan juta rupiah.

“Kalau harga bisa menyesuaikan dengan kondisi dompet lah mas, jadi saya tidak pernah mematok harga. Masalahnya pembeli kan juga berasal dari kelompok pemula juga, jadi tetap kami layani lah. Ya tentunya ada harga ada kualitas dong, kalau tidak saya yang tekor dong,” jeletrehnya, bernada canda.

Tidak bermaksud sombong, sambung Susangka lagi, burung made in Sakura miliknya pernah laku hingga Rp 190 juta. Itu setelah berhasil menjadi runner up lomba burung perkutut tingkat nasional di Semarang.

Bagaimana pengaruh Covid-19 terhadap bisnisnya kini? Susangka mengaku tidak banyak perpengaruh, meski permintaan pasar menurun. Jika sebelumnya, setiap bulan dirinya bisa menjual 20 hingga 25 ekor burung dengan omset penjualan rata-rata mencapai Rp 80 juta Per bulan, kini omset penjualan menurun hingga 50 persen.

“Tetapi masih cukup lah untuk menyambung biaya hidup, dan biaya perawatan burung juga membayar karyawan. Syukuri saja lah mas, yang penting dapur bisa ngebul,” candanya lagi.

Menyudahi obrolan di teras rumah, Susangka mengajak mengelilingi kadang burung yang berada di pekarangan samping rumahnya. Cukup besar memang kandang yang di bagi menjadi beberapa blok itu. Bahkan ada salah satu kandang yang dibangun hingga berlantai 3.

Baca Juga  Puluhan Abang Becak Jalani Rapid Tes, Ini Hasilnya

Setiap melewati blok-blok kandangnya, dengan ramah Susangka rela menjelaskan burung yang ada didalamnya, sesakali dirinya melepas batang rokok dimulutnya, hanya sekedar bersiul untuk memancing burungnya berbunyi. Seketika itu, hampir semua burung di dalam kandang ini seakan-akan pamer suara dihadapan juragannya.

“Kandang yang ini memang usianya sudah siap untuk diajari bunyi, kalau yang kandang bertingkat itu masih anakan, kalau yang persis disebelah rumah itu indukan yang sudah beberapa kali mengeram, jadi saya rawat dulu sampai kondisinya siap untuk dikawinkan lagi. Lah kalau kandang yang ini indukan super, sebelahnya itu indukan yang tidak begitu super tetapi masih berkualitas,” jelas Susangka, menutup perbincangan usai melihat semua kandang yang ada.

Diakhir pertemuan itu, Susangka juga memberikan tips cara nerawat burung perkutut dengan baik, salah satu cara yang tidak boleh diabaikan, adalah porsi makan. Dirinya menyarankan agar perkutut tidak diberi makan berlebih, justru cukup satu kali dalam sehari itupun dengan takaran yang sangat minim. “Burung perkutut ini jenis burung tirakat, jadi tidak boleh banyak makan. Karena kalau gemuk maka suaranya dn nafasnya akan jelek. Jadi caranya, tempat makan perkutut itu kan kecil ya, jadi tiap hari beri saja takaran dibawah separuh tempat makannya, minumnya juga demikian cukup diisi satu kali saja tempat minumnya itu,” tutupnya.(ari/am)

News Feed