oleh

Mengenal Sosok Subandi, Pria yang Berontak saat Diamankan Satpol PP Gegara Menurunkan Masker

Surabaya, (afederasi.com) – Subandi (38), pria yang terekam video saat bersitegang dengan petugas Satpol PP gegara menurunkan masker akhirnya angkat bicara.

Kepada afederasi.com, Subandi menceritakan bahwa sebelum kejadian itu ia duduk dan beristirahat sejenak, karena depo air isi ulang tempatnya bekerja sedang sepi. Ia pun menurunkan maskernya ke dagu dan tiba-tiba ada operasi dari tim swab hunter yang langsung menemuinya.

“Waktu duduk karena pas sepi, maskernya saya turunkan, terus ada operasi dan saya langsung ditarik suruh ikut. Cuman saya tidak mau, berat kerjaan karena nggak ada yang jaga,” ungkap Subandi saat ditemui di rumahnya di Jalan Jojoran gang IV.

Waktu itu, Subandi bukannya menolak namun harus meminta izin terlebih dulu kepada pemilik depo. Tetapi petugas terus menariknya dan akhirnya Subandi memberontak hingga pemilik depo keluar sambil menghadang. Petugas pun saat itu tidak memberikan peringatan terlebih dulu kepada Subandi. Tim swab hunter langsung menarik untuk membawanya ke Puskesmas Mojo untuk dilakukan tes swab.

Baca Juga  Sidang DKPP Perdana Kurang Fair, Ini Sebabnya

“Saya berontak menolak karena tidak ada yang menunggu (depo) akhirnya tarik-tarikan,” ujarnya.

Namun Subandi sendiri mengaku tidak memiliki prasangka buruk apapun, pada tindakan Satpol PP yang menariknya sampai ke mobil patroli. Dia juga menyadari kesalahannya karena tidak mengenakan masker dengan benar.

“Udah nggak kepikiran kesitu (atas tindakan petugas), yang penting selesai dan kembali bekerja. Otot-ototaan ya karena kerjaan. Ya mungkin caranya mereka seperti itu, saya juga sih yang salah. Nggak sepenuhnya salah Satpol PP, mereka juga menjalankan tugas,” kata Subandi.

Suasana bersitegang itu rupanya hanya sebentar. Mulai dari depan Samsat Jalan Kertajaya ia dan petugas mulai mengobrol hingga Puskesmas Mojo sempat bercanda.

“Waktu nyampek di puskesmas kita sudah maaf-maafan becanda biasa. Ya mungkin itu sudah tugas mereka. Habis swab langsung kembali kerja. Tapi di puskesmas dikasih masker sama Satpol PP,” paparnya.

Saat diswab, Subandi hanya terpikirkan pekerjaannya. Pasalnya, menunggu hasil menjadi beban baginya, bila hasilnya keluar positif ia tidak bisa menafkahi istri, dua anak dan lima adik iparnya yang yatim.

Baca Juga  Puluhan Tuna Netra Ikuti Pelatihan Penggunaan Smartphone

“Saya nggak pikiran (dibawa ke Liponsos), saya kepikiran kerja. Swab ini juga jadi beban pikiran sampai sekarang (karena belum keluar), amit-amit kalau keluar poaitif kan tambah susah saya. Kalau karantina saya enak tidur, tapi ada anak dua tapi tanggungan adek-adek ada lima orang anak yatim semua,” pungkas Subandi. (dwd/yp)

News Feed