oleh

Menengok Omah Gajah, Saksi Bisu Tonggak Awal Pengrajin Batik

Tulungagung, (afederasi.com) – Peringatan hari Batik pada tanggal 2 Oktober, rasanya kurang lengkap bila tidak menengok bangunan tua yang terletak di Desa Simo Kecamatan Kedungwaru ini. Pasalnya, gedung tua atau yang dikenal warga sebagai Omah Gajah ini menjadi salah satu saksi bisu perkembangan pengrajin batik di Kota Marmer.

Menurut penuturan Kepala Desa (Kades) Simo Mahmud (60), bangunan tersebut didirikan sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1916 silam. Awal didirikan, bangunan tersebut dulunya juga menjadi sentral pengrajin batik warga sekitar.

Bahkan dulu banyak warga keturunan Thiong hua yang bermukim di Simo. Sehingga daerah tersebut menjadi pusat ekonomi pada masanya.

“Sejak tahun 1916, tempat itu sudah menjadi sentral pengrajin batik di Tulungagung,” ucap Mahmud

Akan tetapi lanjut Mahmud, ketika musibah banjir (diistilahkan banjir Jepang) melanda wilayah Simo pada tahun 1942, banyak saudagar besar yang awalnya bermukim di Simo pindah ke tempat-tempat aman di sebagian daerah kota Tulungagung.

“Ketika banjir jepang itu melanda daerah Simo, banyak saudagar-saudagar besar yang pindah ketempat aman sekitaran kota di Tulungagung,” imbuhnya.

Baca Juga  Pandemi, Minat Belajar Tatap Muka SMALB-B Tinggi

Kepemilikan bangunan itu sendiri, hingga saat ini masih dalam status milik pribadi. Bukannya tinggal diam, pihak desa Simo sebenarnya sudah mengusulkan ke Pemkab Tulungagung untuk menjadikan Omah Gajah menjadi salah satu cagar budaya batik.

Salah satu upaya dari desa yaitu dengan menyelenggarakan festival permainan tradisional anak pada tahun 2018.

“Kita sudah mengusulkan ke pemkab agar dijadikan cagar budaya dan menyelanggarakan festival permainan tradisional anak seperti gedrik dan sebagainya,” terangnya.

Pihak desa dan pihak Keluarga sendiri sebenarnya sangat setuju dengan dijadikannya Omah Gajah sebagai cagar budaya batik di Tulungagung. Namun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil

Bahkan ketika afederasi.com mengunjungi Omah Gajah, bangunan tersebut sedang dalam proses renovasi. Renovasi dilakukan oleh Jhon Heru (56), anak menantu dari keturunan pemilik Omah Gajah tersebut.

Dirinya ingin merenovasi bangunan Omah Gajah menjadi sebuah kafe untuk membuka usaha sekaligus tempat tinggal.

“Karna kita tidak punya rumah dan terhimpit masalah ekonomi, bangunan ini saya renovasi menjadi cafe”. Terang Jhon Heru. (az/yp)

News Feed