oleh

Massa PMII Vs Polisi Bentrok, 3 Mahasiswa Terpaksa Dibawa ke Rumah Sakit

Pamekasan, (afederasi.com) – Ratusan tambang galian C di Kabupaten Pamekasan yang diduga ilegal menjadi sorotan serius mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) setempat. Mereka menggelar demontrasi besar-besaran di depan kantor Pemkab dan Pendopo, Kamis (25/06/2020) siang.

Aksi mahasiswa tersebut berubah menjadi petaka. Pasalnya mereka terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Akibatnya sebanyak 4 mahasiswa mengalami luka karena diduga tendangan, pukulan tangan dan tongkat aparat.

“Kami berempat menjadi sasaran petugas,”tegas ketua Pengurus Cabang PMII, Muhammad Lutfi kepada afederasi.com.

Aksi mahasiswa tersebut berangkat dari kantor cabang PMII Jl Brawijaya menuju kantor pemkab dan pendopo. Aksi dengan membawa atribut organisasi tersebut menempuh jarak sekitar 1.5 Km. Begitu sampai di kantor Pemkab. Peserta aksi tidak ditemui Bupati, Ketua DPRD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Karena tidak ditemui oleh bupati akhirnya terjadi bentrokan,”katanya.

Bentrokan antara massa PMII dengan aparat tidak terbendung. Entah siapa yang memicu pertama. Yang jelas polisi mengejar beberapa peserta aksi dan menjadi sasaran pukulan baik kaki, tangan dan pentungan. Sebanyak empat mahasiswa yang terluka.  Mereka adalah Fiki (ketua Rayun Sakera Komisarit IAIN Madura). Dia mengalami bocor kepala. M. Yasin  (wakil ketua 1 PC PMII) mengalami memar dada. Saiful Anam mengalami luka memar pada tubuh dan sempat dibawa ke dalam pendopo.

Baca Juga  Sambut New Normal, PW IPNU Minta Pemprov NTB Siapkan Fasilitas Bagi Pelajar

“Saya sendiri juga memar pada tangan, pingang, salah satu kuku hampir copot,”jelasnya.

Dijelaskan massa PMII berasal dari UI Madura, STAIN, Unira, IAI Al Khoirot, STAIMM, STISA membubarkan diri setelah salah satu peserta aksi mengalami bocor kepala.

Sebenarnya apa yang melatarbelakangi demontrasi tersebut?. M. Lutfi menegaskan di Kabupaten Pamekasan disinyalir kuat dari sekitar 300 titik tambang galian C. Pertambangan tersebut diduga kuat illegal atau tidak mengantongi ini. Aktifitas pertambangan itu dinilai menyebabkan kerusakan lingkungan. Dia mengklaim jika aktifitas tambang illegal banyak orang-orang berpengaruh diduga terlibat.

“Disana (pertambangan-red) diduga ada tokoh-tokoh. Kami hanya meminta tambang-tambang itu ditutup,”tegas M. Lutfi. (lut/am)

News Feed