oleh

Mantan Ketua DPRD Tulungagung Divonis 8 Tahun Penjara

Surabaya, (afederasi.com) – Mantan ketua DPRD Tulungagung akhirnya divonis 8 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya pada Selasa (4/8/2020).

Terdakwa kasus korupsi pembahasan, pengesahan, dan pelaksanaan APBD atau APBD-P Kabupaten Tulungagung Tahun Anggaran 2015-2018 itu juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.

Seperti yang dilansir dari Antara, dalam putusan tersebut majelis hakim juga menghukum Supriyono untuk membayar uang pengganti (UP) sebesar Rp4,850 miliar yang selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap harus dibayar.

“Jika tidak membayar harta bendanya disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Namun, jika harta benda tidak mencukupi, maka dipidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan,” kata Ketua Majelis Hakim Hizbullah Idris seperti dilansir dari Antara.

Terdakwa juga dijatuhi hukuman tambahan terkait pencabutan hak dipilih dan menduduki jabatan publik selama empat tahun terhitung sejak menjalani masa pemidanaan.

Menanggapi putusan itu, terdakwa melalui penasihat hukum langsung menyatakan banding, sedangkan Jaksa Penuntut Umum dari Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan masih pikir-pikir.

Baca Juga  Kecewa Penegakan Hukum di Kota Marmer, Massa Gelar Tahlilan Hingga Salat Jenazah di Depan Mapolres dan Gedung DPRD

Dalam konstruksi perkara kasus tersebut, Supriyono diduga menerima Rp4,88 miliar terkait proses pembahasan, pengesahan, dan pelaksanaan APBD dan/atau APBD Perubahan Kabupaten Tulungagung Tahun Anggaran 2015-2018.

Uang tersebut diduga berasal dari Bupati Tulungagung 2013-2018 Syahri Mulyo dan kawan-kawan sebagai syarat pengesahan APBD dan/atau APBD Perubahan. Dalam perkara sebelumnya, Syahri Mulyo terbukti menerima suap dari sejumlah pengusaha di Tulungagung.

Dalam persidangan Syahri Mulyo, terungkap adanya uang yang diberikan kepada Ketua DPRD untuk biaya unduh anggaran bantuan provinsi dan praktik uang mahar untuk mendapatkan anggaran baik Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun bantuan provinsi yang dikumpulkan dari uang “fee” para kontraktor untuk diberikan kepada Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung.

Dalam persidangan Syahri Mulyo terungkap bahwa Supriyono menerima Rp3,75 miliar dengan rincian penerimaan “fee” proyek APBD Murni dan APBD Perubahan selama empat tahun berturut pada 2014-2017 sebesar Rp500 juta setiap tahunnya atau total sekitar Rp2 miliar.

Selanjutnya, penerimaan yang diduga untuk memperlancar proses pembahasan APBD, mempermudah pencairan DAK, dan bantuan keuangan provinsi sebesar Rp 750 juta sejak 2014-2018.

Baca Juga  Gagalkan Ilegal Logging, Polisi Hanya Amankan Puluhan Kayu Jati Gelondongan

Kemudian, “fee” proyek di Kabupaten Tulungagung selama tahun 2017 sebesar Rp1 miliar.

News Feed