Kamis, 21 Oktober 2021, 19:55 WIB

Makam Santri Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto Dibongkar, Ini Sebabnya

Lamongan, (afederasi.com) – Polres Mojokerto akhirnya membongkar makam santri pondok pesantren (ponpes) Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto  Gallan Tatyarka Raisaldy (14) yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Temenggungan, Kecamatan/Kabupaten Lamongan, Kamis (21/10/2021).

Pembongkaran makam santri yang diduga tewas karena dianiaya tersebut untuk kepentingan otopsi. Pasalnya keluarga korban merasa ada yang janggal dalam kematian korban.

Pembongkaran makam dilakukan anggota Reskrim Polres Mojokerto dan sejumlah dokter forensik dan para akademisi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Kuasa hukum korban, Ahmad Umar Buwang menegaskan kliennya melaporkan atas dugaan penganiayaan terhadap ananda Gallan Tatyarka Raisaldy yang mengakibatkan meninggal dunia.

“Laporan kami kemarin langsung diterima oleh Kanit Pidum Polres Mojokerto. Sekitar kurang lebih 4 jam kami dimintai keterangan oleh penyidik,” kata Buwang sapaan akrabnya.

Setelah pemeriksaan sudah selesai, kata dia, pihak kepolisian Polres Mojokerto langsung berkoordinasi dengan Tim Forensik Polda Jatim untuk melakukan otopsi pada korban yang dilaksanakan hari ini.

“Kami ucapkan apresiasi kepada Polri kususnya Polres Mojokerto yang langsung gerak cepat dalam menindaklanjuti laporan dugaan penganiayaan yang dilaporkan oleh pihak keluarga,” ungkapnya.

Baca Juga  Menko PMK Muhadjir Berikan 3 Kunci Sukses Atlet Papua

Menurut penjelasan dari salah satu kerabat keluarga almarhum, Andrianto Wicaksono saat ditemui awak media di lokasi pembongkaran makam mengungkapkan, jika kematian santri Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto sangatlah janggal.

“Ananda (korban-red) meninggalnya sudah seminggu yang lalu, tepatnya pada hari Kamis siang. Kemudian sorenya dibawa pulang ke Lamongan untuk dimakamkan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Dia mengungkapkan, menurut kesaksian dari pemandi jenazah yang menemukan korban mengeluarkan darah dari mulut hingga ditemukan ada luka lebam pada kedua tangan korban.

 “Setelah jenazah dimandikan keluar darah dari hidung,” tuturnya.

Pihak keluarga mengikhlaskan makam dibongkar dan dilakukan pencarian data forensik. Namun juga tak boleh gegabah dan mencoba berfikir positif atas kejadian ini.

“Kami tidak mau berandai-andai apa pemicunya, karena masih dalam proses penyelidikan,” ujarnya.

Menurutnya, alasan dibalik pihak keluarga korban menempuh jalur hukum ialah ingin mengetahui fakta yang terkesan disembunyikan.

“Pertama, untuk menuntut keadilan, kedua jangan sampai terjadi lagi kekerasan terhadap para santri dan sebagainya untuk seluruh pesantren di Indonesia,” terangnya.

Baca Juga  DPD RI Sambangi Santri Ponpes Modern Tazakka

Dia berharap, terduga pelaku ditindak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. ” Informasinya memang ada bekas hantaman benda tumpul di daerah vital, seperti di paru–paru dan lainnya,” tutupnya. (ra/am)

News Feed