oleh

Karyawan Demo di PG Olean, Sejumlah Wartawan Dilarang Meliput

Situbondo, (afederasi.com) – Insiden pengusiran sejumlah wartawan terjadi ketika hendak melaksanakan peliputan aksi demo di PG Olean Situbondo, Kamis (25/6/2020). Dilarangnya sejumlah awak media ini, dilakukan oleh petugas keamanan PG yang berjaga di depan gerbang perusahaan plat merah tersebut.

Sebelum masuk ke area pabrik, awalnya sejumlah awak media ini dites suhu dengan Thermo gun. Begitu tahu jika yang akan masuk sejumlah wartawan, seketika itu satpam ini melarang untuk masuk.

“Mohon maaf mas sesuai petunjuk pimpinan tidak boleh masuk dulu, jadi seperti itu,” singkatnya.

Akhirnya beberapa wartawan media dari afederasi.com, Antara, Memo Timur, Radar Situbondo, faktualnews.com, RRI, dan Harian Bhirawa ini hanya bisa menunggu di pos pengamanan, hingga aksi demo tersebut selesai. Selang beberapa menit, sebuah mobil keluar pabrik, yang disebut-sebut adalah sejumlah petinggi PG.

“Ya sebenarnya ini melanggar kebebasan Pers, tetapi kami tetap hargai itu karena Satpam kan hanya melaksanakan tugas atas perintah pimpinan. Kami harap kedepan jangan seperti itu, karena melarang wartawan meliput itu sebuah pelanggaran hukum,” jelas Arifin Nurdiansyah, wartawan Harian Memo Timur, yang juga anggota PWI Situbondo ini.

Baca Juga  Bentrok, 10 Rumah, 15 Kios dan Dua Mobil Dirusak

Pengamatan di area pabrik, aksi demo itu dilakukan karyawan dalam musim giling (DMG), Kabarnya, aksi protes hanya berlangsung beberapa menit hingga akhirnya pihak menejemen melakukan proses mediasi. Sejumlah personel polisi juga disiagakan, untuk mengamankan aksi tersebut.

Usai mediasi dilaksanakan, awak media akhirnya diperbolehkan masuk ke area pabrik. Meski wartawan harus kehilangan momen demo tersebut, dan hanya bisa mengabadikan gambar sejumlah karyawan yang sedang berkumpul.

Salah satu karyawan, Yasmawiyanto, yang juga Ketua Serikat Buruh Independen ini menegaskan, jika aksi karyawan (DMG) itu hanya mempertanyakan nasibnya, apakah PG Olean akan giling atau tidak.

“Kami hanya mempertanyakan kapan giling, dan kenapa tidak giling sampai hari ini. Dan ini kami tegaskan bukan aksi dari serikat buruh, melainkan dari karyawan DMG saja,” tujas Yasman.

Masih menurutnya, dalam mediasi dijelaskan jika stok tebu yang menjadi alasan kenapa PG Olean belum bisa melakukan giling. Hangga akhirnya ada sekitar 500 karyawan DMG ini, yang harus kehilangan pekerjaannya.

“Harusnya bulan ini sudah mulai giling, tetapi kami tetap mengharap ada keajaiban lah. Sekarang harapan kami hanya menunggu kelebihan tebu dari PG lainnya yang tidak tergiling, baru bisa digiling di PG Olean,” tutupnya.

Baca Juga  Angka Kesembuhan Covid-19 Mencapai 85 Persen

Sementara itu, Buhari, asisten manajer PG menjelaskan, jika stok tebu sebenarnya ada sekita 60 ribu ton, namun begitu dikakukan survey ternyata jumlah tenu sudah jauh berkurang, lantaran banyak tebu dijual ke luar.

“Jadi jika dipaksa giling maka PG akan rugi sampai 19 miliar rupiah, maka kami tidak bisa giling. Kami berbeda dengan pabrik swasta, di kami ada aturan main yang harus ditaati. Kalau di swasta mungkin bisa melakukan persaingan,” tutupnya.(ari/am)

News Feed