oleh

Ini Kata Psikolog Penyebab Disorientasi Seksual

Psikolog Ifada Nur Rohmaniah ketika dikonfirmasi

Tulungagung, (Afederasi.com) – Terungkapnya kasus disorientasi seksual (penyuka sejenis) oleh UPPA Polres Tulungagung, Jawa Timur kembali membuka mata publik. Pasalnya seiring berjalannya waktu, satu-persatu fenomena ini mulai terkuak. Setelah, temuan kasus Lelaki Seks Lelaki (LSL) pada Juli yang lalu, kini terungkap kasus lesbian. Menurut keterangan psikolog, hal ini disebabkan karena pola asuh anak yang salah.

“Salah satu faktor penyebabnya adalah pola asuh anak yang salah,” ungkap Psikolog Tulungagung, Ifada Nur Rohmaniah, Kamis (12/09/2019).

Ifada menjelaskan, ketika seorang bayi terlahir ia tidak serta merta menjadi seorang gay/lesbi. Artinya, disorientasi seksual muncul ketika ia berada dilingkup keluarga atau lingkungan.

“Pintu utamanya tetap pada orang tua atau keluarga,” katanya.

Menurut Ifada, orang tua seharusnya tidak perlu mengaburkan informasi saat memperkenalkan alat-alat vital mereka. Sebab, terkadang para orang tua masih menganggap tabu untuk menerangkan alat reproduksi. Dampaknya, mereka akan mencari informasi diluar seiring bertambahnya usianya.

“Ini yang dikhawatirkan jika kalau informasinya benar tidak masalah, namun kalu salah itulah yang menjadi masalah,” ujarnya.

Baca Juga  Ibu Kos Diketemukan Tewas Dibekap di Dalam Kamar

Ifada mengatakan, temuan kasus disorientasi seksual di Tulungagung dewasa ini memang diibaratkan sebagai gunung es. Menurutnya, temuan ini masih berupa lingkup kecil. Artinya, tidak menutup kemungkinan dibawah sana masih banyak kasus-kasus yang belum terangkat.

“Kita juga tidak bisa langsung menyalahkan mereka, karena gay atau lesbi bukanlah kriminal. Tetapi ini harus dijadikan instropeksi bagi semua pihak,” jelasnya.

Ifada menyarankan, bagi orang tua yang menemukan hal-hal yang mengalami disorientasi seksual pada anaknya diharap segera membawanya ke psikolog untuk konsultasi. Nantinya anak tersebut akan didalami dan diberikan asesmen.

“Ini kasuistis, sebelum memberikan traetmen harus didalami masing-masing kasusnya,” ujarnya.

Kemudian cara mendidik yang salah di lingkungan keluarga adalah faktor utamanya. Ia mencontohkan, larangan untuk bergaul dengan lawan jenis, ibunya bersolek yang ditirukan anak lelakinya, dan pembiaran memakai baju wanita sejak kecil.

Ifada menambahkan, terungkapnya kasus ini bisa diambil sisi positifnya. Artinya jika publik telah mengetahui kasus ini, membuat mereka lebih perhatian kepada keluarga dan anak-anaknya.  “Jadi peran ortu dalam mendidik anak yang baik sangat berpengaruh,” tambahnya. (ra/an).

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed