oleh

Ini cerita Pengelola Pariwisata, ditengah Pandemi Covid yang tak Kunjung Berakhir

Mataram, (afederasi.com) – Rony (44) salah satu pengelola penginapan di wilayah Mataram menyebutkan jika penyedia jasa penginapanlah yang berdampak adanya pandemic Covid-19 yang tak kunjung berakhir.

Pasalnya, setelah danya pembatasan akses transportasi baik laut, udara, dan darat sejak 10 Mei lalu oleh Pemprov NTB, dengan cepat berdampak pada menurunnya jumlah wisatawan yang datang ke Lombok.

Penurunan jumlah wisatawan ini yang secara otomatis, membuat omset yang didapat oleh para penyedia jasa di sektor pariwisata mengalami penurunan secara drastis.

“Dari sepuluh kamar, biasanya hanya satu yang kosong, sekarang bisa hanya satu yang terisi,” ungkap Rony yang sedang berjaga di penginapannya (10/6/2020).

Rony tak menyebutkan angka pasti jumlah kerugiaan yang dialaminya, Namun, ia hanya menguraikan beberapa elemen operasional penginapan yang tetap aktif tapi tidak diimbangi pemasukan, seperti pengeluaran listrik, konsumsi, gaji karyawan, biaya promosi, dan dana perawatan penginapan lainnya.

“Listrik, simpanan makanan dan minuman, gaji karyawan, iklan, biaya perawatan dan keamanan tetap kita keluarkan. Tapi pemasukan untuk penginapan tidak ada,” jelasnya.

Baca Juga  Tiga Langkah Mitigasi Dampak Covid-19 pada Sektor Pariwisata

Rony menambahkan dirinya lebih berharap supaya kebijakan pemerintah terkait New Normal dapat memberi pengaruh yang baik di sektor ekonomi dan pariwisata, tanpa harus merugikan masyarakat yang sedang berjuang melawan pandemi secara medis.

“Semoga saja new normal bisa menjadi keputusan baik bagi kami yang ada di sektor pariwisata ini, meski pun kami tetap berharap supaya pandemi ini bisa segera pergi jauh-jauh. Kasihan juga paramedis,” imbuhnya.

Berbeda dengan Syarif (58) yang bekerja di sektor perdagangan justru berpendapat sebaliknya. Syarif yang setiap harinya berjualan kebutuhan pokok sembako justru mengaku mengalami peningkatan penjualan

Dimana dampak pandemi membuat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah, termasuk memasak sendiri makanan di rumah.

“Biasanya kan orang membeli makannya di luar. Sekarang malah lebih banyak masak sendiri di rumah,” terangnya.

Ketika disinggung tentang skala pemasukannya selama pandemi, Syarif mengatakan jika pendapatan yang diperolehnya bertambah hingga dua kali lipat.

“Ya mungkin bisa sampai dua kali lipat. Apalagi beras dan bumbu nasi goreng, harus memperbanyak stok,” pungkas ayah dari empat orang anak tersebut. (rby/an)

News Feed