oleh

Indonesia Jadi Target Pengembangan Khilafah

Suasana Forum Group Discussion (FGD) lintas iman di rumah makan Bima

Tulungagung, (Afederasi.com) – Forum Kebangsaan di Kota Marmer yang terdiri dari lima agama dan aliran kepercayaan sepakat menolak konsep negara kilafah, bersyairah, dan radikalisme. Hal tersebut ditegaskan seusai menggelar Forum Group Discussion pada Sabtu (21/9) di rumah makan Bima.

Dalam diskusi yang berjalan sekitar 180 menit tersebut, dipandu oleh Sean Choir dari Islamic Center for Democracy and Human Rights Empowerement (ICDHRE)  Foundation. Sebelum diskusi dimulai, pemandu memaparkan satu persatu contoh negara-negara di berbagai dunia yang hancur karena faham radikalisme, dan konsep negara khilafah serta bersyariah.

Bahkan menurut Sean Choir, Indonesia merupakan target yang akan dihancurkan namun selalu gagal. Mirisnya, pihak yang menginginkan Indonesia hancur ini memanfaatkan 17 juta penduduk Indonesia atau sekitar 0,16 persen dari jumlah penduduk yang didominasi generasi milenial yang lahir antara tahun 1990 ke atas.

“Ini sangat berbahaya karena mereka berpaham radikalisme. Bahkan generasi in berani menentang nasehat orang tuanya sendiri,” tegas Sean Choir disela-sela acara.

Sean mengatakan, atas dasar itulah pihaknya meminta semua forum kebangsaan dan lintas iman untuk bersatu untuk melawan pihak-pihak yang ingin mengganti konsep NKRI dan pancasila dengan faham radikalisme, NKRI bersyariah, ataupun negara khilafah. Menurutnya, tidak ada satu negara pun yang bisa bertahan dengan konsep negara kilafah. Bahkan, setiap radikalisme tumbuh disuatu negara, hal itu menandakan akan terjadi kehancuran di negara tersebut.

“Bayangkan, berdasarkan hasil penelitian 17 juta generasi milenial tersebut berani mengangkat senjata demi mendirikan negara khilafah,” ujarnya.

Selain itu lanjut Sean, berdasarkan hasil penelitian setidaknya ada dua hal yang membuat Indonesia tetap bertahan hingga sekarang ditengah gencarnya serangan ketiga faham tersebut. Yakni, ideologi Pancasila dan Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan, konsep tersebut juga tengah dipelajari para pemimpin negara-negara asing untuk diadopsi di negaranya masing-masing.

“Kita semua tahu, Indonesia memiliki beragam agama, kebudayaan, suku, ras, dan golongan namun tetap eksis. Inilah yang perlu dijaga bersama,” jelasnya.

Sean menambahkan, melalui forum ini dirinya berpesan agar semua pihak segera menyadari kondisi ini. Sebab, saat ini musuh-musuh telah nyata dan ada dihadapan bersama. Pihaknya yakin, jika seluruh pemuka agama dan kepercayaan bisa bersatu maka orang-orang yang berpaham radikalisme tida memiliki ruang untuk mengembangkan sayapnya.

“Tujuannya kita hanya satu, NKRI tetap eksis sebagaimana harapan para pendahulu negeri ini,” tukasnya.

Hal senada juga diungkapkan salah satu Pengurus Cabang NU Tulungagung Mohammad Fatah Masrun. Menurutnya, pihaknya menentang keras terhadap gerakan-gerakan yang anti NKRI-Pancasila, radikalisme, dan gagasan Khilafah Islamiyah atau sejenisnya. Bahkan, pihaknya meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas segala bentuk usaha yang mengarah kepada tindakan makar.

“Upaya apapun yang bertuuan untuk mengubah Pancasila adalah musuh semua agama, dan ini harus dibasmi oleh negara,” imbuhnya.

Disinggung, bagaimanakah upaya PCNU untuk mengantisipasi merebaknya faham radikalisme di kalangan generasi milenial. Mantan komisioner KPU Tulungagung tersebut akan memanfaatkan badan otonom yang ada pada tubuh NU, diantaranya IPNU/IPPNU, Ansor. Selain itu juga organiasi ektra kampus seperti PMII.

“Kami sangat setuju ini harus segera ditindak lanjuti bersama, mengingat dari hasil studi kami di Tulungagung juga sudah mulai ada benih-benih radikalisme,” tukasnya.

Sementara itu ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Rajab mengatakan, pihaknya mengapresiasi adanya kegiatan-kegiatan yang bertema persatuan dan kesatuan. Sebab, menurut Agama Buda, apapun yang bertentangan dengan Pancasila maka itu juga adalah musuh bersama.

“Demi persatuan dan kesatuan NKRI kami akan selalu siap mendampingi dan memerangi faham radikalisme,” pungkasnya. (ra/am)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

News Feed