oleh

Dinas KB PPPA Tangani 7 Kasus Pelecehan Seksual Laki-laki

Tulungagung, (afederasi.com) – Tak hanya perempuan, kasus pelecehan seksual juga terjadi terhadap laki-laki, kasus pelecehan laki-laki yang sudah ditangani oleh Dinas Keluarga (KB), Pemberdaya Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Terhitung sejak tahun 2019 sampai 2020. Sebanyak 7 kasus pelecehan seksual yang ditangani.

“Korbanya pelecehan seksual sebanyak 11 orang,” kata Winarno, Kasi Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas KB PPPA, Senin  (26/10/2020) pukul 14.00 WIB

Menurut Winarno, motif terjadinya pelecehan seksual pada laki-laki ini disebabkan karena faktor ekonomi dengan modus pertemanan di Facebook. Setelah kenal dari laman Facebook, kemudian setiap keluar untuk ngopi atau makan-makan sering digratiskan, sehingga dari situ kemudian berujung dengan pelecehan seksual. Winarno menambahkan, sebenarnya korban juga tetap merasa sebagai korban pelecehan seksual.

“Biasanya dikasih pulsa entah itu Rp 40 ribu hingga Rp 100 ribu. Tapi tetap saja dia (korban-red) juga mengakui kalau sebenarnya itu tidak benar dan merasa dirinya sebagai korban,” paparnya.

Winarno mengungkapkan, rata-rata korban pelecehan seksual ini berumur 14 sampai 17 tahun. Kasus yang ditangani Winarno kali ini merupakan kasus terbanyak, mengingat pada tahun-tahun sebelumnya belum pernah ditemukan kasus serupa.

Baca Juga  Konsisten Perangi Covid-19, Kapolres dan Dandim Terima Reward

“Rata-rata kasus yang sudah kita tangani, mereka itu orang tuanya sedang tidak mendampingi. Artinya entah dia itu hidup bersama saudara atau karena orang tuanya merantau,” paparnya.

Masih dalam penjelasan Winarno, pihaknya mengaku kesulitan dalam penanganan korban pelecehan seksual pada laki-laki, kesulitan tersebut salah satunya yaitu disebabkan karena pihaknya sulit untuk bertemu dengan korban.

“Kadang orang tuanya juga waktu saya berkunjung kesana, mereka juga tidak tahu anaknya dimana,” imbuhnya.

Lebih lanjut Winarno menjelaskan, anak yang menjadi korban pelecehan seksual pada laki-laki ini cenderung berpotensi akan menjadi pelaku pelecehan seksual ketika sudah dewasa nantinya. Makanya untuk proses pemulihan korban, akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebagai langkah antisipasi, Winarno harus intens melakukan pendampingan baik secara moril maupun psikis para korban. 

“Banyak kasus yang sering saya jumpai di negeri ini. Jadi ketika dia ditangkap atas kasus pelecehan seksual sesama lelaki, dan ketika dilakukan penyelidikan rupanya 15 atau 20 tahun kebelakang rupanya dulunya dia merupakan korban,” ungkap Winarno

Baca Juga  Beredar Gambar Penolakan Mutasi Perangkat Desa, Kades Tlogorejo : Itu Editan

Winarno menambahkan, pihaknya tidak bisa menentukan berapa lama proses penyembuhan dan pendampingan terhadap korban. Pasalnya, hal itu disebabkan karena penyebab dan motif dari kasus yang tidak sama serta kondisi ataupun karakter dari masing-masing korban pun berbeda.

“Saya bisa melakukan pendampingan dalam kurun waktu hari, bulan, tahunan atau bahkan pindah tahun. Itu semua dikarenakan setiap orang punya resistensi masing-masing,” pungkasnya. (az/am)

News Feed