oleh

Audiensi Persoalan Pembuangan Tinja Moyoketen Gagal

Tulungagung, (afederasi.com) –  Audiensi antara pengusaha sedot tinja, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) dan warga Desa Moyoketen  yang digelar di aula kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),  Jum’at (16/10/2020) pukul 09.00 WIB gagal. Pasalanya warga Desa Moyoketen yang menolak pengoperasian IPLT tidak hadir.

Kepala UPT IPLT, Wijang Brahmantoro menjelaskan audiensi ini sebenarnya untuk mencari jalan keluar terkait IPLT yang dipersoalkan warga. UPT sudah mengundang perangkat Desa Moyoketen, pengusaha sedot tinja serta warga sekitar IPLT. Akan tetapi yang hadir hanya pengusaha sedot tinja saja.

“Undangan kami bikin untuk dimulai pada pukul 09.00 WIB, namun sayangnya hingga pukul 10.00 WIB perwakilan warga sama sekali tidak ada yang hadir,” jelas Wijang kemarin.

Menurutnya sebenarnya Sunyoto Kepala Desa Moyoketen sempat menemuinya secara personal sebelum acara audiensi dimulai. Dalam pertemuan personal itu, kades hanya menyampaikan aspirasi dari warganya terkait penolakan pengoprasian kembali IPLT.

“Sebenarnya saya sudah sampaikan ke kades agar warga bersedia audiensi. Karena kita butuh solusi terbaik biar sama-sama jalan, karena dari warga sana ada kepentingan untuk usaha agrowisata yang berdekatan dengan IPLT. Namun UPT juga memiliki kewajiban di pemerintahan untuk mengelola tinja itu,” jelasnya

Baca Juga  Presiden Fokus Pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo

Wijang berharap warga bisa hadir. Dia akan menawarkan beberapa solusi terkait permasalahan ini. Dia mencontohkan dengan pengoprasiannya kembali IPLT itu dianggap mengganggu agrowisata belimbing milik warga. UPT memiliki rencana untuk mengoprasikan IPLT saat agrowisata milik warga ini tutup.

“Agrowisata mereka tidak setiap hari buka. Cuma hari Sabtu sama Minggu, itupun Sabtu tidak terlalu ramai. Saya siap kok kalau hari Sabtu atau Minggu tidak mengoperasionalkan IPLT. Asal itu bisa menjadi win win solution,” ujarnya.

Sementara itu, Topo M Koordinator pengusaha sedot tinja sangat menyayangkan tidak hadiran warga pada audiensi kali ini. Karena tidak bertemunya kedua belah pihak yang berselisih ini maka tidak bisa membicarakan jalan tengahnya. Masih dalam penuturan Topo, dengan adanya audiensi ini seharusnya warga sekitaran IPLT dan para pelaku usaha sedot tinja bisa berjalan beriringan, sehingga dapat menemukan solusi terbaik dan tidak merugikan salah satu pihak.

“Kalau warga persoalkan baunya, padahal sebenarnya limbah tinja itu sudah tidak terlalu bau,” jelas Topo

Baca Juga  Wisata Alam Kawah Ijen Resmi Dibuka, Pembelian Tiket Melalui Online

Topo menjelaskan, bahwa selama ini pihaknya sering mendapatkan ancaman dari warga sekitar IPLT ketika hendak membuang limbah lumpur tinja itu di IPLT. Dengan adanya hal tersebut, dirinya maupun pengusaha sedot tinja lain tidak berani untuk memanfaatkan IPLT milik pemerintah sebagaimana mestinya. Terpaksa, para pengusaha sedot tinja harus membuat tempat pembuangan limbah lumpur tinja sendiri dan hasil dari olahan limbah lumpur tinja tersebut dijadikan pupuk pertanian yang mana pengolahannya memakan waktu yang cukup lama.

“Orderan tetep ada meski tidak bisa buang, kadang kita cari pemilik sawah barang kali butuh pupuk, tapi itukan sifatnya temporer dan memakan waktu yang cukup lama,” jelasnya.

Dengan belum adanya solusi dari permasalahan ini yang bisa disepakati kedua belah pihak, Topo besama para pengusaha sedot tinja lainnya akan mengalah agar tidak adanya benturan yang berlebihan dengan warga sekitar. Namun, dirinya juga berharap agar mendapatkan solusi atas permasalahan ini, sehingga dirinya bisa membuang limbah lumpur tinja di IPLT seperti dulu.

Baca Juga  Muslimat NU Pecahkan Rekor MURI Sajian Khas Tulungagung, Nasi Pincuk Ayam Lodho Suwir

“Kami menunggu instruksi dari UPT dulu, kalau sudah ada solusinya dan sudah boleh dipakai, kami akan pakai. Tidak apa kami mengalah dulu, yang penting tidak ada gesekan berlebih dengan warga sana,” tutupnya. (ziz/am)

News Feed